Friday, April 15, 2016

0
NEGERI ENTAH

: salam hormatku untuk ibu-ibu perkasa dari pegunungan Kendheng.












Inilah Negeri entah
yang entah karena apa
siapa atau siapa
dengan mudahnya melupakan janji mereka

Inilah Negeri entah
yang entah karena apa,
mata yang Tuhan anugerahkan kepada mereka
mendadak buta menyaksikan saudara mereka menderita

Telinga tak mampu lagi mendengar
karena bising hingar-bingar perebutan kuasa
Hati seolah mati
mereka pungkiri perusakan tanah mereka sendiri

Gusti...
Kalau benar mereka hanya pura-pura lupa
maka hempaskan ingatan mereka
sampai mereka benar-benar lupa
bahkan terhadap diri mereka

Kalau benar mereka hanya pura-pura buta
maka butakanlah mata mereka
Agar mereka lebih dulu merasakan
gelap dunia atas ulah mereka

Kalau benar mereka hanya pura-pura tuli
atau terus memungkiri apa kata hati
Ah, ini memang Negeri entah

Entahlah...

Tegal, 15/04/16
Tuesday, March 29, 2016

0
ITULAH SEBAB, DI DUNIA MAYA INI, PENCITRAAN ITU PENTING

Tidak bisa dipungkiri, media sosial adalah sarana yang bisa diakses banyak kalangan dengan berbagai kepentingan. Dari anak-anak sampai orang dewasa, untuk pengembangan bisnis atau sekadar bertegur sapa dengan teman-teman yang sudah lama tidak bersua. Pun untuk mengekspresikan diri dengan curhatan-curhatan melow, pisuhan, atau unggahan foto hasil jalan-jalan.

Belakangan semakin banyak unggahan foto atau status dari akun media sosial yang kemudian tersebar secara viral dan menuai kecaman dari banyak pihak. Ini tentu karena postingan tersebut dianggap dan disepakati banyak pihak tidak sesuai dengan norma yang ada di masyarakat kita.

Hujatan dan sumpah serapah sudah barang tentu menghujani pemilik akun mengiringi unggahannya itu, atau mungkin hasil screenshoot yang kemudian disebar secara individu atau dikemas sebagai sebuah berita dan diterbitkan di berbagai situs media.

Belum lama beranjak dari timeline kita, kasus-kasus unggahan foto yang kemudian viral dengan banyak kecaman. Masih ingat Ida Tri Susanti? Seorang mahasiswi di Jember, yang mengunggah foto diri berbaju salah satu klub sepak bola dan hasil buruannya—kucing hutan—yang dilindungi negara karena populasinya yang hampir punah. Mungkin karena tidak tahu tenang kucing hutan yang dilindungi negara atau hanya berniat pamer kepada teman-temannya di media sosial. Namun justru hujatan dan sumpah serapah netizen dari berbagai penjuru negeri ini, terus mengalir kepada mbak Ida ini. Dan ini tentu akan terus membekas di kehidupannya.

Membunuh satwa yang dilindungi negara memang bukan perbuatan yang dapat dibenarkan. Namun membunuh mental seseorang dengan hujatan dan sumpah serapah dianggap biasa saja karena dilakukan bersama-sama.

Menyusul kemudian unggahan Hesti Sundari di akun instagram miliknya. Dia berpose bak model di rerimbunan bunga Amarilis di Pathuk, Gunung Kidul, yang rusak karena diinjak-injak para pengunjung.
Ini tak kalah viral dan tentu dengan diiringi berbagai hujatan yang ditujukan kepadanya. Terlebih unggahannya itu disertai kalimat mencak-mencak merasa tidak bersalah. Fatal. Ini mungkin karena mbak Hesti tidak pandai mencitrakan diri. Coba tidak mencak-mencak, hapus unggahannya, dan segera meminta maaf atas perbuatannya, tentu tidak seramai dan seheboh itu. Namun terlambat, udah kepalang tanggung mencak-mencaknya itu dibaca banyak orang. Ketika kemudian mbak Hesti mengakui kesalahnnya dan meminta maaf justru hanya dijadikan bahan hujatan dan bully lanjutan.

Menginjak sampai merusak keindahan taman bunga—apalagi bunga ini hanya mekar setahun sekali—memang bukan perbuatan yang bisa dibenarkan begitu saja. Namun, menginjak penginjak bunga dengan hujatan dan sumpah serapah ternyata dianggap lumrah karena dilakukan secara berjamaah.

Lagi. Sekira hampir dua mingguan yang lalu, beredar foto pelajar di salah satu Madrasah Tsanawiyah di Purbalingga yang diunggah ke akun facebook miliknya, Gopenx All Well—kemudian diketahui nama aslinya Jefri Iftiadi—dengan pose mengacungkan jari tengah kepada lukisan Jenderal Soedirman yang sedang hormat, dengan cengengesan dan melampirkan satu kata pada unggahannya itu; “FVCK”

”Lho, maksudmu apa, dek? Nek gak dike’i sangu wong tuamu sewaktu adek mau jalan-jalan, mbok jangan dilampiaskan dengan cara gitu toh! Itu akibat adek males waktu disuruh orang tua adek, mungkin. Atau mungkin orang tua adek memang sedang tidak punya uang. Dan apa adek tidak tahu? Itu salah satu pahlawan kita lho, dek. Seharusnya adek hormati meskipun hanya gambar. Bukan malah mengacungkan jari tengah sambil cengengesan seolah bangga gitu!

Benar saja. Alih-alih merasa keren dan menuai banyak pujian dari teman-temannya di media sosial dengan pose demikian, adek gemes ini justru mendapat banyak kecaman sampai dilaporkan ke kepolisian oleh beberapa netizen karena dianggap melecehkan.

“Jangan diulangi lagi ya, dek. Kakak-kakak yang menghujatmu itu, barangkali cuma ngasih kamu pelajaran kok biar kamu lebih baik lagi. Jangan kapok bermedia sosial!”

Hal serupa bisa menimpa siapa saja, di mana saja. Bahkan nama-nama besar sekalipun tidak luput dari hal itu. Darwis Tere Liye, misal. Novelis megaproduktif dengan karya-karya yang sering mendapat stempel "Best Seller". Belio pernah jadi bahan bully-an netizen karena tulisannya di FP miliknya yang menyinggung soal kepahlawanan Ulama-ulama besar dan umat beragama lain, lalu mengesampingkan peran komunis, sosialis, aktivis HAM, atau liberalis. Dengan kata lain, belio meragukan kepahlawanan Soekarno atau Tan Malaka.

Beruntung, Tere tidak sendirian. Dibelakangnya banyak ribuan bahkan jutaan fans garis keras yang—manggut-manggut dengan tulisan-tulisan blio, like, kemudian ijin share—siap membela mati-matian sang idola.
Pun Fahira Idris, Senator RI, Wakil Ketua Komite III DPD RI, yang tempo hari saya tulis. Ibu Senator juga tidak sendirian. Dibelakangnya banyak yang siap mendukung bahkan jika harus perang urat saraf sekalipun.
Dan masih banyak lagi postingan serupa baik berupa foto atau tulisan yang kemudian menuai polemik di kalangan netizen.

Dunia maya bisa jadi jauh lebih kejam dari dunia nyata. Bisa lebih menyakitkan dari ejekan teman karena kita jomblo terlalu lama. Atau bisa terasa lebih perih dari ketika kita melihat mantan lewat di depan kita dengan pasangan barunya.
Sedikit saja kesalahan yang kita lakukan, bisa menjadi lahan pencitraan orang lain agar dianggap baik. Itulah sebab, di dunia maya ini, pencitraan itu penting. Barangkali tulisan ini termasuk. Eh!

0
Tentang Rindu #1

Barangkali seperti gelap yang begitu saja melumat senja lah yang kelak akan mempertemukanku pada rinduku. Rindu yang ku rumat tanpa tenggat agar tak berkarat. Rindu yang meski terlalu lambat untuk ku usahakan penuntasannya. Pada senyum manja yang tetap terjaga, meski tak terkata. Semoga.
Hompimpa!
Wednesday, March 9, 2016

0
KALIWUNGU

Menjejakkan kaki kembali di Kaliwungu adalah menziarahi harapan yang tersia-siakan. Membuka kembali kotak yang telah lama tersimpan rapi di rak. Kotor, penuh debu. Pandangan tertuju pada tempat parkir beratap fiber di sebelah utara bangunan beton berlantai empat (kini di situ telah pula berdiri bangunan beton). Disebelah timur agak ke utara hampir mepet tembok tetangga ada sumur. Di sumur itu, dulu, banyak yang dengan riuh menimba bergantian. Mandi. Karena tak mau terlalu lama ngantri di kotak-kotak kamar mandi.

Di parkiran beratap fiber berukuran sekira 7x7 meter itu, dulu, berdiri bangunan dua lantai, dengan dinding dan sekat papan yang membagi delapan kamar. Di salah satu kamar di lantai dua, sebelah utara yang menghadap ke barat yang, diatas pintu, bertulis "SUNAN GESENG", disanalah aku bertempat ketika, sekira 13 tahun silam, aku menjejakkan kaki kali pertama di tanah ini.

Dihampir setiap pagi, selepas subuh, tidak lupa ngapéli Lik Mahfud (semoga Allah mengampuni semua kealpaannya dan melapangkan kuburnya) untuk membeli ganjel perut; teh manis dan "blanggréng" dengan sambel terasi. Atau menunggu dua anak kecil yang dengan penuh semangat menjajakan dagangannya sebelum berangkat ke sekolah. "Gélékeee...Gélékeee...". Sungguh aku rindu teriakan kedua bocah itu.

Tiba-tiba seperti terdengar suara yang tak asing bagiku. Ya! suara Abah dari aula memanggilku dengan pengeras suara selepas ngaji tafsir jalalain atau adzkar nawawi (kini suara itu tak akan pernah ku dengar lagi). Segera ku tutup pintu kamar, ku kunci dari dalam dengan paku yang menempel--yang dibengkokkan--di jerumpul pintu, kemudian krukupan sarung, pura-pura tidur. Tak peduli siapa yang berulang menggedor pintu sambil teriak: "Kang, timbali abah!"

Aku masih ingat bagaimana dulu--dengan semangat--bersama melagukan bait demi bait nadhom 'aqidatul awam, hidayatus shibyan, imrithi, alfiyah, atau membaca kembali kitab-kitab dengan makna gandul yang telah diajarkan sebelumnya sembari menunggu ustadz masuk kelas--bersatir triplek untuk memisahkan satu kelas dengan kelas lain.

Aku masih ingat bagaimana raut muka tegang diantara kami ketika ustadz memanggil kami satu per satu untuk maju menghafal nadhom atau sorogan. Masih terlihat jelas wajah-wajah takut tak mampu menghafal atau membaca kembali kitab yang telah dimaknainya sendiri. Sebab konsekuensi ketika tak mampu menghafal atau baca kitab, kami harus rela berdiri di kelas sebelah sampai selesai ngaji. Tentu itu hal yang membuat kami malu.

Kaliwungu, membawaku kembali pada ingatan-ingatan tentang banyak hal.
: Kebijaksanaan Abah dan Bu Nyai, kearifan warga sekitar (apa kabar mak Sri, mak Khom, mak Nur, lik Bambang, pak Woh, om Gank, simbah--kopi slank, mami?), lalu-lalang kaum bersarung tanpa alas kaki dengan gudig yang menempel di selakangan atau sela jari, makan rame-rame dalam satu talam, seember pecerén yang diciduk sendiri kemudian untuk mandi sendiri (sebagai ta'zir karena melakukan pelanggaran pada level tertentu), sampai penjalin yang siap mendarat di punggung-punggung para pelanggar aturan (aku termasuk didalamnya).

Aku rindu panjenengan timbali dengan pengeras suara karena tidak ngaji. Aku rindu panjenengan dukani karena terlampau ndablek. Aku rindu panjenengan suruh mijeti sebagai ta'zir pelanggaranku. Aku rindu suara itu. Aku rindu semua itu.

Sugeng tindak, Abah KH. Syamsul Ma'arif. Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu.

_________________
Pungkuran, 23/02/2016
Saturday, February 20, 2016

0
KOPI DAN MANTAN

Kopi. Sebagaimana telah sama-sama kita ketahui. Merakyat. Karena kopi dapat dinikmati semua kalangan. Terlepas dari kualitas atau jenis kopi itu sendiri, yang pada kualitas atau jenis tertentu harganya terlampau mahal--tentu bagiku yang hanya seorang penganggur ini.

Kopi. Bisa jadi membawa kita pada ingatan tentang apa atau siapa. Seperti ia menggiringku pada ingatan tentang kebersamaan saat dulu di pesantren. Kami membuat satu porsi besar untuk kami nikmati bersama, atau satu sachet kopi kapal api, murah namun tetap mantap untuk dinikmati, (ini bukan ngiklan lho! Hahaha) yang hanya pas diseduh dalam cangkir atau gelas kecil, yang juga kami cecap bersama, bergantian, joinan, bagi siapa saja yang melewati seduhan itu dan tentu menginginkan untuk mencecapnya. Sambil ngaji atau santai membincangkan apa saja.

Dari kebiasaan ngopi bareng itu, aku mulai mengenal beberapa jenis racikan kopi. Mulai dari Kopi lelet (Lasem), Kopi kothok (Blora), Kopi jos (Jogja), Kopi Lampung, Kopi Palembang, sampai Kopi Bali--hanya beberapa jenis kopi yang diracik sendiri ala angkringan di pinggir jalan. Tentu masih banyak jenis racikan ala barista di cafe-cafe mewah dengan cara racik dengan alat modern yang belum aku nikmati.
                                                     
***

Tentang ingatan dalam secangkir kopi, ada sebuah cerita. Ini tentang seorang kawan yang, beberapa minggu lalu, bercerita kepadaku melalui pesan singkat. Ia merantau jauh meninggalkan keluarga. Namun setiap ia pulang ke kampung halaman, selalu ada waktu untuk duduk bercengkerama, ngopi bareng bapaknya dari racikan tangan penuh cinta; Ibunya--terkhusus pada selasa kliwon. Entah karena apa.

Hingga pada suatu ketika, sosok bapak yang dibanggakannya itu terlebih dahulu dipanggil Gusti Allah yang kebetulan bertepatan pada selasa kliwon. Ini tentu sebuah kebetulan yang--baginya--tak akan pernah terlupakan. Maka, setiap selasa kliwon, meski entah karena apa, katanya, ia sudah jarang ngopi, ia sempatkan untuk ngopi. Ia jadikan semacam ritual wajib untuk mengenang sosok bapak. Menziarahi banyak kisah dalam secangkir kopi sampai pada batas getir ampas.

"Lalu, apa hubungannya dengan mantan?"

"Barangkali ini sekedar cocoklogi tentang perjalanan dengan mantan. Siapa tahu mantanmu pernah mengajakmu ngopi, mungkin? Atau barangkali kau yang sengaja, dengan berbagai modus, mengajaknya ngopi karena kangen? Sah sah saja, bukan? Hahahaha"
                                                          
***

Beberapa minggu terakhir, aku merasakan sepertinya tubuhku sedang tidak menerima kopi. Ini bukan karena ketakutan kepada "si Anida" yang belakangan ini mendadak jadi primadona lho ya. Tapi kesehatan tubuh memang sedang tidak bisa diajak kompromi. Dada terasa sakit sampai ke punggung. Sengaja aku tidak memeriksakannya ke dokter. Sebab, asumsiku, diagnosis dokter acap dirasakan lebih menyakitkan dari rasa sakit itu sendiri, menakut-nakuti, dan cenderung membuat down. Maka, sebisaku, dengan caraku sendiri, melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, sedikit memerhatikan kesehatan, salah satunya dengan sejenak melupakan kopi.

Susah. Ternyata susah jika harus begitu saja melupakan kopi yang biasanya aku nikmati dipagi atau malam hari, bersama kawan atau sendiri. Sesekali aku masih menikmatinya. Dengan konsekuensi dada dan punggung langsung terasa sakit. Ya! Ini sama susahnya seperti melupakan mantan. Sebab, bagaimanapun juga sosok ini pernah tercatat dalam sejarah perjalanan kita. Ciye sejarah. Hahaha
Ingatan itu pada suatu ketika pasti akan kembali terbuka. meskipun kita tahu konsekuensinya, pasti akan ada sedikit luka yang kembali menganga. Bagiku, tak masalah. Sebab. itu tak sebanding dengan kebahagian yang dulu pernah kita terima. Maka, sudah barang tentu seharusnya kita berterimakasih pada mereka. Seperti The Rain dalam lagunya yang, dengan besar hati, berterimakasih kepada barisan para mantan, juga kepada semua yang pergi meski tanpa sempat dibersamai.

Beda The Rain, beda kawanku yang nyantri di Magelang. Dengan diksi sedikit nyantri dia berkata "Bagaimanapun juga, madhi tak boleh dilupakan begitu saja." Pada titik ini, aku sepakat. Namun aku sedikit menimpali ucapannya itu; "Aku curiga, jangan-jangan mudhori' mu kembali ke madhi juga." Hahaha
                                                           
***

Aku heran. Kenapa begitu banyak yang memposisikan mantan sebagai tokoh antagonis. Tak pantas diingat, memuakkan, dan cenderung menakutkan. Mantanophobia. Sampai-sampai pada 13 Februari kemarin ada Festival Melupakan Mantan di Pendopo Agung Taman Siswa Yogyakarta. Kenanglah jika memang kau butuh mengenangnya. Sesekali sapalah ia, dalam rangka memanusiakannya. "Tak perlu bersusah payah kau melupakannya, jika pada kenyataannya kau tak bisa. Cukup kau olah kebencianmu, karena mungkin pernah terkecewakan, menjadi kekuatan yang terpancar darimu, yang siapapun tak pernah menyangka kau bisa melakukannya." Walah! Uooopppooo iku? Hahaha

Kelak akan aku buktikan, bahwa mengenang mantan tak selalu seperti yang selama ini dituduhkan banyak orang; membuat semangat menurun, sakit hati, muntah-muntah, kejang-kejang, batuk, pilek, dan sebagainya, dan sebagainya. Hahaha
                                                         
***

Jika Dee pernah menulis dalam Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade, "Kita tidak bisa menyamakan kopi dengan air tebu. Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan." Maka perkenankanlah aku berkata: "Sepahit apapun mantan bagimu. Ia tetap memiliki sisi manis yang tak bisa kau pungkiri. Seperti kopi, meskipun punya sisi pahit, namun jika berada di tangan yang tepat, kopi akan disulap menjadi racikan yang nikmat."


_______________________
Negeri Entah, 14/02/16
Friday, January 29, 2016

0
KETIKA PARA "LEGEND" BENAR-BENAR BERTOGA

Entah siapa yang membuat, siapa yang pertama kali mengunggah dan menyebarkannya. Aku pernah menemu gambar tentang klasifikasi mahasiswa S1 berdasarkan semester. Bahkan aku sempat mendownloadnya dan aku kirimkan kepada salah seorang dari tiga yang fotonya aku hadirkan juga disini. Semester 1-2 (junior), 3-4 (amateur), 5-6 (beginner), 7-8 (senior), 9-10 (veteran), 11-12 (sepuh), dan 13-14 (legend).

Aku tidak akan membahas panjang lebar tentang junior (dengan keluguan, keplonga-plongoan, dan kebodohan yang mau saja dikerjai para senior untuk melakukan hal-hal konyol--terutama saat ospek), amateur, beginner, senior, veteran, atau sepuh. Ya, ini tentang para legend kampus yang akhirnya diwisuda ketika posisi mereka di kampus mulai rawan dan mengkhawatirkan.

Mereka ini para legend yang luar biasa. Mereka juga turut menjadi saksi bersejarah dari perubahan IAIN
menjadi UIN dengan status mereka masih sebagai mahasiswa. Dulu, penantianku untuk turut menjadi saksi perubahan itu dengan status masih sebagai mahasiswa harus terhenti pada tingkat sepuh karena mendapat pressure dari banyak pihak--terutama orang tua. Namun mereka tidak, pemuda-pemuda ini tetep bersikukuh untuk menjadi saksi perubahan itu. Mungkin juga sekaligus mengamalkan potongan bait nadhom yang pernah mereka pelajari. Thuuluzzamaan. Dawa mangsane.
                                                             ***
Ojan. pemuda asal Brebes yang berwajah boros. Ya, aku katakan berwajah boros karena wajahnya terlihat lebih tua dari usianya. Terbukti waktu itu ada acara imtihan (kalau tidak salah) di pesantren, kebetulan ada santri baru. Kami duduk di teras pesantren membincangkan apa saja, tiba-tiba santri baru ini melontarkan tanya kepada Ojan, "Lha Kang e alumni tahun pira?" Sontak kami yang berada di teras itu terbahak. Jelas ini karena wajah borosnya. Kalau tidak, tak mungkin pertanyaan itu terlontar keluar. 

Dalam hal percintaan, dia patut diacungi jempol karena kesetiaannya. Dari dulu, yang aku tahu, pasangannya ya itu. Nggak tahu kalau diluar itu dia main serong dengan yang lain. Hahaha
Ada kejadian yang mungkin mempengaruhinya menjadi legend kampus. Saat itu (kalau tidak salah) dia masih pada tingkat beginner, dia terjatuh ketika futsal. Sial. Kepala bagian belakangnya yang terlebih dahulu membentur lantai sampai sempat linglung dan harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari. Mungkin karena kejadian itulah otaknya geser dan menjadikannya mulai menunjukkan gejala abai terhadap kampus. Namun beberapa bulan kemarin sebelum akhirnya diwisuda pada siang tadi, dia menjadi sangat rajin. Dia kebut skripsinya. Dia terus buka referensi dan mulai mengetik skripsinya lembar demi lembar, bahkan saat yang lain tertidur pulas. Ini luar biasa.
                                                            ***
Mansur. pemuda asal pelosok Banjarnegara dengan gaya kepemimpinan yang luar biasa. Aku katakan pelosok karena memang pelosok. Bagaimana tidak, channel tv yang bisa tembus sampai rumahnya hanya indosiar, signal seluler byar-pet dan ketika ingin dapat signal lebih bagus harus naik ke posisi yang lebih tinggi; genteng rumah atau naik pohon misal. Hahaha
Pemuda ini juga sebenarnya berwajah boros, namun tak seboros Ojan.

Dalam hal percintaan, dia termasuk telat. Disaat teman-temannya sudah mengalami fase pubertas untuk kali kesekian, dia baru mengalaminya di klasifikasi mahasiswa pada tingkat senior, entah karena apa. Padahal kalau dari sisi wajah gak jelekjelek amat. Dan itu pun dia dapatkan hasil dari pertempuran sampai berdarah-darah yang tentu menguras pikiran, tenaga, dan air mata. Hahaha 

Namun sial disaat hampir paripurna statusnya sebagai mahasiswa dan segera diwisuda, jarahan hasil pertempuran yang (mungkin) sedianya hendak dia jadikan buat pendamping wisuda (PW), harus dia relakan diambil alih orang lain karena dia kalah dalam pertempuran mempertahankannya. Menyedihkan memang, dan mungkin sedikit mengganggu pikirannya. Namun pemuda ini bukan pemuda lemah, dia kuat. Terbukti skripsi tetap berjalan. Ketika beberapa bulan lalu aku bertemu dengannya, aku berbasa-basi menanyakan "wis bab pira?", dengan mantap dia menjawab: "Bab 3 hampir selesai!". Dan siang tadi dia juga diwisuda.
                                                           ***
EL Vaaz. Nah ini aku bingung hendak mengklasifikasikannya pada tingkat yang mana. Sebab dalam klasifikasi yang aku temu, tidak ada disana semester pemuda ini. Semester 15. Memang sih, dia dinyatakan lulus pada semester 14, namun itu hasil dari sidang susulan, dan dia tidak bisa ikut wisuda pada semester itu. Maka, dia harus sabar menunggu satu semester lagi untuk benar-benar memakai toga. Dan itu, sekarang. Semester 15.

Pemuda ini juga berasal dari Banjarnegara, kalau boleh aku katakan, dia sepaket dengan Mansur. Banyak kegiatan yang mereka lakukan bersama. Laiknya Murad dan Pipit dalam Preman Pensiun. Namun mereka bukan preman, tidak juga berbadan gede dan sangar. Mereka aktivis Himpunan, juga "cah pondok". Elvaz, dia seorang aktivis yang selalu berada di barisan terdepan ketika ada demonstrasi di depan gubernuran. Bermodal megaphone di tangan, dia suarakan dengan lantang kritik-kritik terhadap pemerintahan. Pernah suatu ketika saat sedang demo dan ricuh, dia dituduh sebagai provokator, dikejar, dan dilumpuhkan dengan pentungan aparat yang mendarat tepat di pelipis matanya. Tersungkur, kemudian diinjak. Dia dirawat beberapa hari di rumah sakit. Nah, saat itu semacam berkah bagiku yang menungguinya karena memperoleh fasilitas "menyehatkan" dari beberapa senior. Terimakasih ya, Vaz? Hahaha

Dalam hal percintaan, dulu dia punya pacar yang aduhai, namun entah karena apa mereka bubar dan pemuda ini kemudian menggilai wanita lain yang--aku tak mau menceritakannya di sini--sering dia sebut-sebut saat sedang main PES dan hendak memasukkan bola ke gawang lawan. Kali itu kandas. Khawatirku saat itu, dia menjadi gila. Hahaha.

Namun belakangan dia menjalin hubungan lagi dengan wanita yang kerap dia sebut dengan "Rose". 
Lama, pemuda ini kembali pada tidur panjangnya, bermalas-malasan, entah karena apa. Sepanjang pagi sampai sore dia sembunyikan diri dari matahari. Mlungker di kamar. Ke kampus kalau ingat, itu pun sangat jarang sekali. Lebih banyak tidak ingatnya, atau mungkin pura-pura lupa. Entahlah. Namun, setelah dia naik ke tingkat legend, dia mulai menggeliat dari tidur panjangnya dan mulai menjamah skripsi untuk meloloskannya pada gerbang wisuda. Mungkin ini juga karena dorongan energi dari wanita berinisial "Rose" yang memantik semangat baru baginya dalam balut pubertas untuk kesekian kalinya. Dan akhirnya, siang tadi dia diwisuda juga.
                                                          ***
Oh iya, dia juga yang sering aku ajak nonton teater. Atau dia yang mengajakku. Tanpa dia apa jadinya aku di gedung pertunjukan? "Ya tetap penonton lah!" Hahaha

Terlalu panjang jika harus aku tuliskan secara rinci tentang kalian. Anggap saja ini sebagai hadiah sekaligus permohonan maafku kepada kalian, karena aku tak bisa hadir diacara wisuda siang tadi. 
Selamat melangkah ke tahap berikutnya, kawan. Semoga keberuntungan menyertai kalian.

Tabik!

__________
Tegal, 29/01/15
Tuesday, August 18, 2015

2
"MERDEKA", KATANYA.


Inilah Negeriku, Negeri "merdeka", katanya.
Tujuh dasawarsa sudah diproklamirkan
Nyatanya masih banyak yang setiap malam resah
karena tak tahu besok mau makan apa?


Inilah Negeriku, Negeri "merdeka", katanya.
Euforia tahunan selalu diselenggarakan dengan gegap gempita
Nyatanya setelah itu mereka kembali berlupa
Apa sesungguhnya makna merdeka?

Inilah Negeriku, Negeri "merdeka", katanya.
Nyatanya pekarangan, sawah, yang sedianya hendak digunakan untuk bercocok tanam
ditikam makelar tanah untuk ditanami bangunan megah nan gagah
Dan kita dipaksa merelakannya.

Inilah Negeriku, Negeri "merdeka", katanya.
Nyatanya untuk menikmati kemerdekaan pun
Acap kita dijegal kaum eksklusif berkantong tebal

Yang punya kuasa Melacurkan diri untuk memenuhi ambisi pribadi.
Yang punya kekuatan untuk melawan
Terbungkam lipatan amplop yang menggiurkan.
Cerita perjuangan pahlawan kemerdekaan
Hanyalah kenangan indah yang perlahan terlupakan.

Inilah Negeriku, Negeri "merdeka", katanya.
Nyatanya kita masih harus berjuang
untuk benar-benar dikatakan merdeka.

: Dirgahayu Negeriku. Semoga lekas sembuh.

__________________
Tegal, Agustus 2015
Friday, July 31, 2015

0
Dua Kursi

::
Satu untukku duduk.
Satu lagi--kalau kau mau--untukmu.
Duduklah!

Mari kita bercerita
: tentang senja dan jingganya,
tentang malam yang tenang,
atau tentang pagi yang terkadang terburu menghampiri ketika kita tengah asyik bermimpi.
Sambil sesekali menyeruput pahit-manis secangkir kopi.

______________
Tegal, 27/07/15 20.46

~foto: KasKus

0
MAAFKANLAH!

Sok bijak!
Padahal ketika berlaku tak sebijak yang diucapkan.
Itu aku, bukan sampeyan.
Maka, maafkanlah.

Sok pintar!
Dan suka memintari yang lain.
Padahal penuh dengan kebodohan.
Itu aku, bukan sampeyan.
Maka, maafkanlah.

Berpura-pura kuat!
Agar terlihat hebat.
Padahal lemah tak berdaya.
Itu aku, bukan sampeyan.
Maka, maafkanlah.

Berpura-pura baik!
Padahal hanya topeng
untuk menutupi kebobrokan-kebobrokan diri.
Itu aku, bukan sampeyan.
Maka, maafkanlah.

Berpura-pura ikhlas!
Padahal penuh harap agar mendapat balas
Itu aku, bukan sampeyan.
Maka, maafkanlah.

Penuh kesombongan.
Penuh kemunafikan.
Penuh kepura-puraan.
Itu aku, bukan sampeyan.
Maka, maafkanlah.
________________________
Tegal, Syawal 1436 H

0
AYUN AYUN BADAN

Ayun ayun badan
Badan siji dadi susahing ati
Wong ing dunya sugih dosa
Mulih akhirat dipun siksa

Allah kula nyuwun pangapura
Saking kathahe dosa kawula
Sinten ingkang badhe ngapura
yen mboten Pangeran kawula
Allah Agung

Pengeling-eling:
Aja eling wong nang akhirat
Elingana mumpung nang alam dunya
Gawe dalaning suwarga
Babadana! Rancasana!

Aja dibabad mukti sugih
Babadana muji kelawan dzikir
"Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulallah"

::
Badan memang acap memaksa kita--atas nama gengsi, atas kebahagiaan--memanjakannya, menimang-nimang sedemikian rupa. Bahkan tidak jarang menenggelamkan kita dalam kotor kubangan dosa. Dan kita lupa semua akan dipertanggungjawabkan dihadapanNya.
Jangan, jangan sampai baru ingat kelak diakhirat, tapi ingatlah mumpung masih di dunia.

Bersihkan dirimu, bersihkan hatimu. Babadana! Rancasana! Bersihkan dari kotoran-kotoran nafsu serakahmu. Kekayaan tidak akan mengantarkanmu pada ridhoNya, ketika kau tidak tepat dalam mendapatkan dan membelanjakannya.

Maka, ingatlah kepada Tuhanmu, ikrarkanlah bahwa Ia satu-satunya Tuhan yang patut kau sembah. Terserah bagaimana dan hendak lewat jalan mana kau menuju Tuhanmu. Tak usah saling menyalahkan, tak usah saling merasa paling benar. Sebab toh di dunia ini kebenaran hanya kesepakatan yang kita buat sendiri, kesepakatan dari satu sumber yang tak akan pernah selesai ditafsirkan.

Embuh sejak kapan dan siapa yang pertama kali melantunkan syi'ir ini. Syi'iran, yang di tempatku, yang hanya terdengar saling bersaut dari masjid atau mushola ketika Ramadan tiba.

Apakah di tempat kalian juga ada?

________________________________________
Negeri Entah Berantah, 10 hari terakhir Ramadhan 1436
 
Waro Muhammad | © 2010 by DheTemplate.com | Supported by Promotions And Coupons Shopping & WordPress Theme 2 Blog | Tested by Blogger Templates | Best Credit Cards