Jumat, 29 Januari 2016

0
KETIKA PARA "LEGEND" BENAR-BENAR BERTOGA

Entah siapa yang membuat, siapa yang pertama kali mengunggah dan menyebarkannya. Aku pernah menemu gambar tentang klasifikasi mahasiswa S1 berdasarkan semester. Bahkan aku sempat mendownloadnya dan aku kirimkan kepada salah seorang dari tiga yang fotonya aku hadirkan juga disini. Semester 1-2 (junior), 3-4 (amateur), 5-6 (beginner), 7-8 (senior), 9-10 (veteran), 11-12 (sepuh), dan 13-14 (legend).

Aku tidak akan membahas panjang lebar tentang junior (dengan keluguan, keplonga-plongoan, dan kebodohan yang mau saja dikerjai para senior untuk melakukan hal-hal konyol--terutama saat ospek), amateur, beginner, senior, veteran, atau sepuh. Ya, ini tentang para legend kampus yang akhirnya diwisuda ketika posisi mereka di kampus mulai rawan dan mengkhawatirkan.

Mereka ini para legend yang luar biasa. Mereka juga turut menjadi saksi bersejarah dari perubahan IAIN
menjadi UIN dengan status mereka masih sebagai mahasiswa. Dulu, penantianku untuk turut menjadi saksi perubahan itu dengan status masih sebagai mahasiswa harus terhenti pada tingkat sepuh karena mendapat pressure dari banyak pihak--terutama orang tua. Namun mereka tidak, pemuda-pemuda ini tetep bersikukuh untuk menjadi saksi perubahan itu. Mungkin juga sekaligus mengamalkan potongan bait nadhom yang pernah mereka pelajari. Thuuluzzamaan. Dawa mangsane.
                                                             ***
Ojan. pemuda asal Brebes yang berwajah boros. Ya, aku katakan berwajah boros karena wajahnya terlihat lebih tua dari usianya. Terbukti waktu itu ada acara imtihan (kalau tidak salah) di pesantren, kebetulan ada santri baru. Kami duduk di teras pesantren membincangkan apa saja, tiba-tiba santri baru ini melontarkan tanya kepada Ojan, "Lha Kang e alumni tahun pira?" Sontak kami yang berada di teras itu terbahak. Jelas ini karena wajah borosnya. Kalau tidak, tak mungkin pertanyaan itu terlontar keluar. 

Dalam hal percintaan, dia patut diacungi jempol karena kesetiaannya. Dari dulu, yang aku tahu, pasangannya ya itu. Nggak tahu kalau diluar itu dia main serong dengan yang lain. Hahaha
Ada kejadian yang mungkin mempengaruhinya menjadi legend kampus. Saat itu (kalau tidak salah) dia masih pada tingkat beginner, dia terjatuh ketika futsal. Sial. Kepala bagian belakangnya yang terlebih dahulu membentur lantai sampai sempat linglung dan harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari. Mungkin karena kejadian itulah otaknya geser dan menjadikannya mulai menunjukkan gejala abai terhadap kampus. Namun beberapa bulan kemarin sebelum akhirnya diwisuda pada siang tadi, dia menjadi sangat rajin. Dia kebut skripsinya. Dia terus buka referensi dan mulai mengetik skripsinya lembar demi lembar, bahkan saat yang lain tertidur pulas. Ini luar biasa.
                                                            ***
Mansur. pemuda asal pelosok Banjarnegara dengan gaya kepemimpinan yang luar biasa. Aku katakan pelosok karena memang pelosok. Bagaimana tidak, channel tv yang bisa tembus sampai rumahnya hanya indosiar, signal seluler byar-pet dan ketika ingin dapat signal lebih bagus harus naik ke posisi yang lebih tinggi; genteng rumah atau naik pohon misal. Hahaha
Pemuda ini juga sebenarnya berwajah boros, namun tak seboros Ojan.

Dalam hal percintaan, dia termasuk telat. Disaat teman-temannya sudah mengalami fase pubertas untuk kali kesekian, dia baru mengalaminya di klasifikasi mahasiswa pada tingkat senior, entah karena apa. Padahal kalau dari sisi wajah gak jelekjelek amat. Dan itu pun dia dapatkan hasil dari pertempuran sampai berdarah-darah yang tentu menguras pikiran, tenaga, dan air mata. Hahaha 

Namun sial disaat hampir paripurna statusnya sebagai mahasiswa dan segera diwisuda, jarahan hasil pertempuran yang (mungkin) sedianya hendak dia jadikan buat pendamping wisuda (PW), harus dia relakan diambil alih orang lain karena dia kalah dalam pertempuran mempertahankannya. Menyedihkan memang, dan mungkin sedikit mengganggu pikirannya. Namun pemuda ini bukan pemuda lemah, dia kuat. Terbukti skripsi tetap berjalan. Ketika beberapa bulan lalu aku bertemu dengannya, aku berbasa-basi menanyakan "wis bab pira?", dengan mantap dia menjawab: "Bab 3 hampir selesai!". Dan siang tadi dia juga diwisuda.
                                                           ***
EL Vaaz. Nah ini aku bingung hendak mengklasifikasikannya pada tingkat yang mana. Sebab dalam klasifikasi yang aku temu, tidak ada disana semester pemuda ini. Semester 15. Memang sih, dia dinyatakan lulus pada semester 14, namun itu hasil dari sidang susulan, dan dia tidak bisa ikut wisuda pada semester itu. Maka, dia harus sabar menunggu satu semester lagi untuk benar-benar memakai toga. Dan itu, sekarang. Semester 15.

Pemuda ini juga berasal dari Banjarnegara, kalau boleh aku katakan, dia sepaket dengan Mansur. Banyak kegiatan yang mereka lakukan bersama. Laiknya Murad dan Pipit dalam Preman Pensiun. Namun mereka bukan preman, tidak juga berbadan gede dan sangar. Mereka aktivis Himpunan, juga "cah pondok". Elvaz, dia seorang aktivis yang selalu berada di barisan terdepan ketika ada demonstrasi di depan gubernuran. Bermodal megaphone di tangan, dia suarakan dengan lantang kritik-kritik terhadap pemerintahan. Pernah suatu ketika saat sedang demo dan ricuh, dia dituduh sebagai provokator, dikejar, dan dilumpuhkan dengan pentungan aparat yang mendarat tepat di pelipis matanya. Tersungkur, kemudian diinjak. Dia dirawat beberapa hari di rumah sakit. Nah, saat itu semacam berkah bagiku yang menungguinya karena memperoleh fasilitas "menyehatkan" dari beberapa senior. Terimakasih ya, Vaz? Hahaha

Dalam hal percintaan, dulu dia punya pacar yang aduhai, namun entah karena apa mereka bubar dan pemuda ini kemudian menggilai wanita lain yang--aku tak mau menceritakannya di sini--sering dia sebut-sebut saat sedang main PES dan hendak memasukkan bola ke gawang lawan. Kali itu kandas. Khawatirku saat itu, dia menjadi gila. Hahaha.

Namun belakangan dia menjalin hubungan lagi dengan wanita yang kerap dia sebut dengan "Rose". 
Lama, pemuda ini kembali pada tidur panjangnya, bermalas-malasan, entah karena apa. Sepanjang pagi sampai sore dia sembunyikan diri dari matahari. Mlungker di kamar. Ke kampus kalau ingat, itu pun sangat jarang sekali. Lebih banyak tidak ingatnya, atau mungkin pura-pura lupa. Entahlah. Namun, setelah dia naik ke tingkat legend, dia mulai menggeliat dari tidur panjangnya dan mulai menjamah skripsi untuk meloloskannya pada gerbang wisuda. Mungkin ini juga karena dorongan energi dari wanita berinisial "Rose" yang memantik semangat baru baginya dalam balut pubertas untuk kesekian kalinya. Dan akhirnya, siang tadi dia diwisuda juga.
                                                          ***
Oh iya, dia juga yang sering aku ajak nonton teater. Atau dia yang mengajakku. Tanpa dia apa jadinya aku di gedung pertunjukan? "Ya tetap penonton lah!" Hahaha

Terlalu panjang jika harus aku tuliskan secara rinci tentang kalian. Anggap saja ini sebagai hadiah sekaligus permohonan maafku kepada kalian, karena aku tak bisa hadir diacara wisuda siang tadi. 
Selamat melangkah ke tahap berikutnya, kawan. Semoga keberuntungan menyertai kalian.

Tabik!

__________
Tegal, 29/01/15
 
Selasa, 18 Agustus 2015

2
"MERDEKA", KATANYA.


Inilah Negeriku, Negeri "merdeka", katanya.
Tujuh dasawarsa sudah diproklamirkan
Nyatanya masih banyak yang setiap malam resah
karena tak tahu besok mau makan apa?


Inilah Negeriku, Negeri "merdeka", katanya.
Euforia tahunan selalu diselenggarakan dengan gegap gempita
Nyatanya setelah itu mereka kembali berlupa
Apa sesungguhnya makna merdeka?

Inilah Negeriku, Negeri "merdeka", katanya.
Nyatanya pekarangan, sawah, yang sedianya hendak digunakan untuk bercocok tanam
ditikam makelar tanah untuk ditanami bangunan megah nan gagah
Dan kita dipaksa merelakannya.

Inilah Negeriku, Negeri "merdeka", katanya.
Nyatanya untuk menikmati kemerdekaan pun
Acap kita dijegal kaum eksklusif berkantong tebal

Yang punya kuasa Melacurkan diri untuk memenuhi ambisi pribadi.
Yang punya kekuatan untuk melawan
Terbungkam lipatan amplop yang menggiurkan.
Cerita perjuangan pahlawan kemerdekaan
Hanyalah kenangan indah yang perlahan terlupakan.

Inilah Negeriku, Negeri "merdeka", katanya.
Nyatanya kita masih harus berjuang
untuk benar-benar dikatakan merdeka.

: Dirgahayu Negeriku. Semoga lekas sembuh.

__________________
Tegal, Agustus 2015
Jumat, 31 Juli 2015

0
Dua Kursi

::
Satu untukku duduk.
Satu lagi--kalau kau mau--untukmu.
Duduklah!

Mari kita bercerita
: tentang senja dan jingganya,
tentang malam yang tenang,
atau tentang pagi yang terkadang terburu menghampiri ketika kita tengah asyik bermimpi.
Sambil sesekali menyeruput pahit-manis secangkir kopi.

______________
Tegal, 27/07/15 20.46

~foto: KasKus

0
MAAFKANLAH!

Sok bijak!
Padahal ketika berlaku tak sebijak yang diucapkan.
Itu aku, bukan sampeyan.
Maka, maafkanlah.

Sok pintar!
Dan suka memintari yang lain.
Padahal penuh dengan kebodohan.
Itu aku, bukan sampeyan.
Maka, maafkanlah.

Berpura-pura kuat!
Agar terlihat hebat.
Padahal lemah tak berdaya.
Itu aku, bukan sampeyan.
Maka, maafkanlah.

Berpura-pura baik!
Padahal hanya topeng
untuk menutupi kebobrokan-kebobrokan diri.
Itu aku, bukan sampeyan.
Maka, maafkanlah.

Berpura-pura ikhlas!
Padahal penuh harap agar mendapat balas
Itu aku, bukan sampeyan.
Maka, maafkanlah.

Penuh kesombongan.
Penuh kemunafikan.
Penuh kepura-puraan.
Itu aku, bukan sampeyan.
Maka, maafkanlah.
________________________
Tegal, Syawal 1436 H

0
AYUN AYUN BADAN

Ayun ayun badan
Badan siji dadi susahing ati
Wong ing dunya sugih dosa
Mulih akhirat dipun siksa

Allah kula nyuwun pangapura
Saking kathahe dosa kawula
Sinten ingkang badhe ngapura
yen mboten Pangeran kawula
Allah Agung

Pengeling-eling:
Aja eling wong nang akhirat
Elingana mumpung nang alam dunya
Gawe dalaning suwarga
Babadana! Rancasana!

Aja dibabad mukti sugih
Babadana muji kelawan dzikir
"Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulallah"

::
Badan memang acap memaksa kita--atas nama gengsi, atas kebahagiaan--memanjakannya, menimang-nimang sedemikian rupa. Bahkan tidak jarang menenggelamkan kita dalam kotor kubangan dosa. Dan kita lupa semua akan dipertanggungjawabkan dihadapanNya.
Jangan, jangan sampai baru ingat kelak diakhirat, tapi ingatlah mumpung masih di dunia.

Bersihkan dirimu, bersihkan hatimu. Babadana! Rancasana! Bersihkan dari kotoran-kotoran nafsu serakahmu. Kekayaan tidak akan mengantarkanmu pada ridhoNya, ketika kau tidak tepat dalam mendapatkan dan membelanjakannya.

Maka, ingatlah kepada Tuhanmu, ikrarkanlah bahwa Ia satu-satunya Tuhan yang patut kau sembah. Terserah bagaimana dan hendak lewat jalan mana kau menuju Tuhanmu. Tak usah saling menyalahkan, tak usah saling merasa paling benar. Sebab toh di dunia ini kebenaran hanya kesepakatan yang kita buat sendiri, kesepakatan dari satu sumber yang tak akan pernah selesai ditafsirkan.

Embuh sejak kapan dan siapa yang pertama kali melantunkan syi'ir ini. Syi'iran, yang di tempatku, yang hanya terdengar saling bersaut dari masjid atau mushola ketika Ramadan tiba.

Apakah di tempat kalian juga ada?

_________________________
Margadana, 10 hari terakhir Ramadhan 1436

0
Catatan Kecil

::
Waro,
Keluarkan saja apa yang ada dalam pikiranmu
Muntahkan, tumpahkan
Jangan biarkan ia terlalu lama mengendap dalam benakmu
dan akhirnya membusuk seiring dengan membusuknya tubuhmu

Waro,
Buang ragu dalam dirimu
Singkirkan ketakutan-ketakutanmu yang tak beralasan itu
Ingatlah! Bahwa hidupmu tak cukup untuk kau nikmati sendiri

Kalau itu sebuah kebaikan,
Tentu akan membawa kebaikan bagi kawan-kawanmu
Kalau itu hanya dinilai sebagai kebodohanmu,
paling tidak kau telah menunjukkan pada mereka
untuk tidak menjadi sebodoh dirimu

Waro,
Tentang mereka
: Yang ada bersamamu saat kau sekarat
Rawat dan jagalah mereka
Dan mereka yang satu persatu meninggalkan dan menginjakmu saat kau berada dititik terendahmu,
maafkan dan jangan sisakan sedikitpun dendam untuk mereka

Waro,
Berdirilah!
Berdirilah diatas kakimu sendiri
Bangkitlah!
Berlarilah sejauh kau mampu berlari.

______________
Tegal, 05/07/15. 21.31

0
Selamat Ulang Tahu[N]

Mulai detik ini,
semoga Gusti Allah menganugerahimu dengan kebahagiaan
menghujanimu dengan keindahan demi keindahan,
dan menjadikanmu semakin mengerti
bahwa kesedihan-kesedihan yang kerap datang adalah sarana pendewasaan bagimu.

: Selamat ulang tahun, dek.
Mendewasalah dan teruslah menjadi pribadi yang indah

______________
Tegal, 13/06/15 00.01
Selasa, 17 Maret 2015

0
ADA APA DENGAN KAU, KAWAN?

::
Ada apa dengan kau, kawan?
Dulu, aku mengenalmu sebagai pribadi yang ramah,
kenapa sekarang berubah menjadi pemarah?

Apa hanya karena alasan klasik itu,
kau menjelma menjadi sedemikian keji dan tak berperi?

Bukankah kita telah sama-sama mengerti,
semua itu hanya berujung pada kencing dan tai?
Kenapa kau sebegitu takut, akan tak terlunaskannya apa yang telah Dia jaminkan untukmu? Kenapa?
 

Kenapa terus kau tebar ancaman?
Kau onarkan kedamaian?
Kau buat saudara-saudarimu sendiri merasa ketakutan?
Kenapa?


Ada apa dengan kau, kawan?

_______________
Tegal, 09/03/15  20.30
Rabu, 03 Desember 2014

0
HUJAN NOVEMBER

Kecintaanmu terhadap hujan, sungguh tak diragukan.
Sorot matamu mengisahkan hujan.
Dalam terikmu ada hujan.
Apalagi ketika kau bercerita tentang hujan,
sungguh tak ada yang bisa sedetil dan semenarik ketika kau yang menceritakannya.

Aku masih sangat ingat
Ketika kau bercerita tentang hujan
Kau eja dari mendung yang gelap,
Petir yang mulai menyambar,
Rintik gerimis,
Bau tanah yang basah karenanya,
Ketika hujan mulai deras,
Bahkan sampai indah warna pelangi ketika hujan mulai berhenti

Hujan itu kehidupan bagimu.
Jangankan ketika hujan membujuk dan merayumu
untuk segera keluar menyambutnya,
padahal kau tengah berada dalam rumah,
tengah asik bersembunyi dalam teduhnya,
dengan ketukan-ketukan lembut ketika hujan menyentuh genteng rumahmu,
atau ketika gemercik airnya dengan deras menghantam tanah yang mulai basah dipekarangan samping rumah,
sedang tanpa bujuk rayu pun,
hujan selalu ada dan kau hadirkan kapanpun kau mau.

Bahkan suatu ketika,
disangat dulu sekali, pernah aku melihatmu,
menari riang gembira ditengah hujan
kau biarkan payung yang ada ditangan kananmu tetap menguncup
agar hujan dengan leluasa memelukmu
Dan ketika aku tanya "kenapa tak kau kembangkan payung ditanganmu itu?"
kau jawab dengan cengiran,
kemudian berucap "biasa, lagi kumat"
sambil berlalu, berjingkrak, menari, tanpa kau pedulikan sedikitpun keherananku.

November,
seperti dinovember-november yang lalu
seharusnya kau lebih sering berjumpa kekasihmu itu
: Hujan.

Tapi di November ini,
hujan sepertinya masih nampak ragu dan inggrang-inggring untuk menemusuaimu.
Kadang, terlihat ia dari kejauhan,
melambai, seperti hendak menujumu.
Tapi tiba-tiba menghilang ketika kau bersiap menyambutnya.
Bahkan sampai hampir habis sudah deret angka di november ini.

Hujan November, yang selalu kau rindu.
Meski ia tak segera datang melunaskan rindumu itu,
tak jadi soal,
sebab bagimu, bukan untuk itu tujuan rindumu...

_______________
Tegal, November 2014

0
Rindu [itu saja]

Rindu
bukan sebuah belenggu
Atau benalu
yang mengganggu

Rindu
Bukan pula tentang kegelisahan
kesedihan
juga kepedihan

Rindu itu keindahan
Kerna Tuhan masih menganugerahi rasa
dalam ingatan

Hari ini
Tak ada ragu
Aku kenang dalam rindu

Di entah mana kau
Sehat dan berbahagialah...

_________________
Indramayu 10/11/14 19.08
 
Waro Muhammad | © 2010 by DheTemplate.com | Supported by Promotions And Coupons Shopping & WordPress Theme 2 Blog | Tested by Blogger Templates | Best Credit Cards