Selasa, 18 Agustus 2015

0
"MERDEKA", KATANYA.


Inilah Negeriku, Negeri "merdeka", katanya.
Tujuh dasawarsa sudah diproklamirkan
Nyatanya masih banyak yang setiap malam resah
karena tak tahu besok mau makan apa?


Inilah Negeriku, Negeri "merdeka", katanya.
Euforia tahunan selalu diselenggarakan dengan gegap gempita
Nyatanya setelah itu mereka kembali berlupa
Apa sesungguhnya makna merdeka?

Inilah Negeriku, Negeri "merdeka", katanya.
Nyatanya pekarangan, sawah, yang sedianya hendak digunakan untuk bercocok tanam
ditikam makelar tanah untuk ditanami bangunan megah nan gagah
Dan kita dipaksa merelakannya.

Inilah Negeriku, Negeri "merdeka", katanya.
Nyatanya untuk menikmati kemerdekaan pun
Acap kita dijegal kaum eksklusif berkantong tebal

Yang punya kuasa Melacurkan diri untuk memenuhi ambisi pribadi.
Yang punya kekuatan untuk melawan
Terbungkam lipatan amplop yang menggiurkan.
Cerita perjuangan pahlawan kemerdekaan
Hanyalah kenangan indah yang perlahan terlupakan.

Inilah Negeriku, Negeri "merdeka", katanya.
Nyatanya kita masih harus berjuang
untuk benar-benar dikatakan merdeka.

: Dirgahayu Negeriku. Semoga lekas sembuh.

__________________
Tegal, Agustus 2015
Jumat, 31 Juli 2015

0
Dua Kursi

::
Satu untukku duduk.
Satu lagi--kalau kau mau--untukmu.
Duduklah!

Mari kita bercerita
: tentang senja dan jingganya,
tentang malam yang tenang,
atau tentang pagi yang terkadang terburu menghampiri ketika kita tengah asyik bermimpi.
Sambil sesekali menyeruput pahit-manis secangkir kopi.

______________
Tegal, 27/07/15 20.46

~foto: KasKus

0
MAAFKANLAH!

Sok bijak!
Padahal ketika berlaku tak sebijak yang diucapkan.
Itu aku, bukan sampeyan.
Maka, maafkanlah.

Sok pintar!
Dan suka memintari yang lain.
Padahal penuh dengan kebodohan.
Itu aku, bukan sampeyan.
Maka, maafkanlah.

Berpura-pura kuat!
Agar terlihat hebat.
Padahal lemah tak berdaya.
Itu aku, bukan sampeyan.
Maka, maafkanlah.

Berpura-pura baik!
Padahal hanya topeng
untuk menutupi kebobrokan-kebobrokan diri.
Itu aku, bukan sampeyan.
Maka, maafkanlah.

Berpura-pura ikhlas!
Padahal penuh harap agar mendapat balas
Itu aku, bukan sampeyan.
Maka, maafkanlah.

Penuh kesombongan.
Penuh kemunafikan.
Penuh kepura-puraan.
Itu aku, bukan sampeyan.
Maka, maafkanlah.
________________________
Tegal, Syawal 1436 H

0
AYUN AYUN BADAN

Ayun ayun badan
Badan siji dadi susahing ati
Wong ing dunya sugih dosa
Mulih akhirat dipun siksa

Allah kula nyuwun pangapura
Saking kathahe dosa kawula
Sinten ingkang badhe ngapura
yen mboten Pangeran kawula
Allah Agung

Pengeling-eling:
Aja eling wong nang akhirat
Elingana mumpung nang alam dunya
Gawe dalaning suwarga
Babadana! Rancasana!

Aja dibabad mukti sugih
Babadana muji kelawan dzikir
"Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulallah"

::
Badan memang acap memaksa kita--atas nama gengsi, atas kebahagiaan--memanjakannya, menimang-nimang sedemikian rupa. Bahkan tidak jarang menenggelamkan kita dalam kotor kubangan dosa. Dan kita lupa semua akan dipertanggungjawabkan dihadapanNya.
Jangan, jangan sampai baru ingat kelak diakhirat, tapi ingatlah mumpung masih di dunia.

Bersihkan dirimu, bersihkan hatimu. Babadana! Rancasana! Bersihkan dari kotoran-kotoran nafsu serakahmu. Kekayaan tidak akan mengantarkanmu pada ridhoNya, ketika kau tidak tepat dalam mendapatkan dan membelanjakannya.

Maka, ingatlah kepada Tuhanmu, ikrarkanlah bahwa Ia satu-satunya Tuhan yang patut kau sembah. Terserah bagaimana dan hendak lewat jalan mana kau menuju Tuhanmu. Tak usah saling menyalahkan, tak usah saling merasa paling benar. Sebab toh di dunia ini kebenaran hanya kesepakatan yang kita buat sendiri, kesepakatan dari satu sumber yang tak akan pernah selesai ditafsirkan.

Embuh sejak kapan dan siapa yang pertama kali melantunkan syi'ir ini. Syi'iran, yang di tempatku, yang hanya terdengar saling bersaut dari masjid atau mushola ketika Ramadan tiba.

Apakah di tempat kalian juga ada?

_________________________
Margadana, 10 hari terakhir Ramadhan 1436

0
Catatan Kecil

::
Waro,
Keluarkan saja apa yang ada dalam pikiranmu
Muntahkan, tumpahkan
Jangan biarkan ia terlalu lama mengendap dalam benakmu
dan akhirnya membusuk seiring dengan membusuknya tubuhmu

Waro,
Buang ragu dalam dirimu
Singkirkan ketakutan-ketakutanmu yang tak beralasan itu
Ingatlah! Bahwa hidupmu tak cukup untuk kau nikmati sendiri

Kalau itu sebuah kebaikan,
Tentu akan membawa kebaikan bagi kawan-kawanmu
Kalau itu hanya dinilai sebagai kebodohanmu,
paling tidak kau telah menunjukkan pada mereka
untuk tidak menjadi sebodoh dirimu

Waro,
Tentang mereka
: Yang ada bersamamu saat kau sekarat
Rawat dan jagalah mereka
Dan mereka yang satu persatu meninggalkan dan menginjakmu saat kau berada dititik terendahmu,
maafkan dan jangan sisakan sedikitpun dendam untuk mereka

Waro,
Berdirilah!
Berdirilah diatas kakimu sendiri
Bangkitlah!
Berlarilah sejauh kau mampu berlari.

______________
Tegal, 05/07/15. 21.31

0
Selamat Ulang Tahu[N]

Mulai detik ini,
semoga Gusti Allah menganugerahimu dengan kebahagiaan
menghujanimu dengan keindahan demi keindahan,
dan menjadikanmu semakin mengerti
bahwa kesedihan-kesedihan yang kerap datang adalah sarana pendewasaan bagimu.

: Selamat ulang tahun, dek.
Mendewasalah dan teruslah menjadi pribadi yang indah

______________
Tegal, 13/06/15 00.01
Selasa, 17 Maret 2015

0
ADA APA DENGAN KAU, KAWAN?

::
Ada apa dengan kau, kawan?
Dulu, aku mengenalmu sebagai pribadi yang ramah,
kenapa sekarang berubah menjadi pemarah?

Apa hanya karena alasan klasik itu,
kau menjelma menjadi sedemikian keji dan tak berperi?

Bukankah kita telah sama-sama mengerti,
semua itu hanya berujung pada kencing dan tai?
Kenapa kau sebegitu takut, akan tak terlunaskannya apa yang telah Dia jaminkan untukmu? Kenapa?
 

Kenapa terus kau tebar ancaman?
Kau onarkan kedamaian?
Kau buat saudara-saudarimu sendiri merasa ketakutan?
Kenapa?


Ada apa dengan kau, kawan?

_______________
Tegal, 09/03/15  20.30
Rabu, 03 Desember 2014

0
HUJAN NOVEMBER

Kecintaanmu terhadap hujan, sungguh tak diragukan.
Sorot matamu mengisahkan hujan.
Dalam terikmu ada hujan.
Apalagi ketika kau bercerita tentang hujan,
sungguh tak ada yang bisa sedetil dan semenarik ketika kau yang menceritakannya.

Aku masih sangat ingat
Ketika kau bercerita tentang hujan
Kau eja dari mendung yang gelap,
Petir yang mulai menyambar,
Rintik gerimis,
Bau tanah yang basah karenanya,
Ketika hujan mulai deras,
Bahkan sampai indah warna pelangi ketika hujan mulai berhenti

Hujan itu kehidupan bagimu.
Jangankan ketika hujan membujuk dan merayumu
untuk segera keluar menyambutnya,
padahal kau tengah berada dalam rumah,
tengah asik bersembunyi dalam teduhnya,
dengan ketukan-ketukan lembut ketika hujan menyentuh genteng rumahmu,
atau ketika gemercik airnya dengan deras menghantam tanah yang mulai basah dipekarangan samping rumah,
sedang tanpa bujuk rayu pun,
hujan selalu ada dan kau hadirkan kapanpun kau mau.

Bahkan suatu ketika,
disangat dulu sekali, pernah aku melihatmu,
menari riang gembira ditengah hujan
kau biarkan payung yang ada ditangan kananmu tetap menguncup
agar hujan dengan leluasa memelukmu
Dan ketika aku tanya "kenapa tak kau kembangkan payung ditanganmu itu?"
kau jawab dengan cengiran,
kemudian berucap "biasa, lagi kumat"
sambil berlalu, berjingkrak, menari, tanpa kau pedulikan sedikitpun keherananku.

November,
seperti dinovember-november yang lalu
seharusnya kau lebih sering berjumpa kekasihmu itu
: Hujan.

Tapi di November ini,
hujan sepertinya masih nampak ragu dan inggrang-inggring untuk menemusuaimu.
Kadang, terlihat ia dari kejauhan,
melambai, seperti hendak menujumu.
Tapi tiba-tiba menghilang ketika kau bersiap menyambutnya.
Bahkan sampai hampir habis sudah deret angka di november ini.

Hujan November, yang selalu kau rindu.
Meski ia tak segera datang melunaskan rindumu itu,
tak jadi soal,
sebab bagimu, bukan untuk itu tujuan rindumu...

_______________
Tegal, November 2014

0
Rindu [itu saja]

Rindu
bukan sebuah belenggu
Atau benalu
yang mengganggu

Rindu
Bukan pula tentang kegelisahan
kesedihan
juga kepedihan

Rindu itu keindahan
Kerna Tuhan masih menganugerahi rasa
dalam ingatan

Hari ini
Tak ada ragu
Aku kenang dalam rindu

Di entah mana kau
Sehat dan berbahagialah...

_________________
Indramayu 10/11/14 19.08
Senin, 21 Juli 2014

0
Aku Ingin Menyanyikannya Lagi

Tiba-tiba teringat
lagu yg dulu sering diputar bapak
disela-sela waktu usai pulang kerja

Berpuluh-puluh tahun silam Mashabi telah melantunkannya
Ia telah mengabarkan tentang cinta,
dengan penuh cinta:

Rasa cinta pasti ada
pada makhluk yang bernyawa
Sejak lama sampai kini
tetap suci dan abadi
Takkan hilang selamanya
sampai datang akhir masa
Takkan hilang selamanya
sampai datang akhir masa
Renungkanlah...

Sekarang agaknya mereka telah lupa tentang cinta
Atas nama cinta
dengan seenaknya mereka mencaci, memaki
Atas nama kepedulian terhadap negeri
mereka bahkan dengan keji memakan bangkai kawan sendiri
Mereka korbankan cinta yg tidak dibangun sehari, duahari

Agama terjual
Nurani tergadaikan
Terus saja mereka membual
dan dengan bangga mereka kobarkan kebencian

:Perasaan insan sama
ingin cinta dan dicinta
Bukan ciptaan manusia
tapi takdir Yang Kuasa
Janganlah engkau pungkiri
segala yang Tuhan beri

Sungguh, aku ingin menyanyikannya lagi
Aku ingin melangitkannya lagi
Bersama kawan ataupun lawan
yg dengan keikhlasan dan besar hati
tanpa kepentingan pribadi
tanpa benci
agar cinta diantara kita kembali bersemi

Beringin, 16/07/14
 
Waro Muhammad | © 2010 by DheTemplate.com | Supported by Promotions And Coupons Shopping & WordPress Theme 2 Blog | Tested by Blogger Templates | Best Credit Cards