Selasa, 27 Maret 2012

13
Sabit

Kau tak sempurna
Tapi kaulah jalan menuju kesempurnaan
Kau tak seindah purnama
Tapi Kaulah awal keindahannya

Sedikit demi sedikit
Kau jelmakan cahaya hingga menjadi purnama
Meskipun kau tau
Setelah itu semua seolah lupa
Bahwa kaulah mulanya

Semua takjub melihat indah purnama
Semua terpesona karena pancar cahayanya
Tapi kau tak marah
Kau mulai lagi setelah purnama berganti
Kau rangkai lagi
Lalu kau hadirkan lagi

Meskipun kau merasa
setelah itu semua kembali lupa
Bahwa kaulah keindahan sebenarnya
Kamis, 22 Maret 2012

10
Sajak Untuk Indonesia

Apa kabar Indonesia?
Apa kabar tanah air tercinta
Lama sekali aku tak mendengar senyum ceriamu
Lama sekali aku tak mendengar kabar bahagia darimu

Kau nampak murung
Karena permasalahan yang tak berujung
Kau nampak kusut
Karena keadaan yang semakin carut marut

1945 dengan gagahnya kau berikan kabar bahagia
Kau berikan harapan bangsa dengan kata “merdeka”
Kau yakinkan dunia bahwa perjuangan panjang kita tak sia-sia
Ya... saat itu kita merdeka

Tapi sekarang..
 Apakah kita masih merdeka?
Ataukah kemerdekaan bagi sebagian orang saja??

Kemerdekaan itu telah ternoda
Senyum cerah bangsamu kini hilang entah kemana
Mereka semakin merasa susah
Mereka semakin tak tau pada siapa harus berkeluh kesah

Kemerdekaan itu kian ternoda
Terlihat ketika pandir-pandir tanah ini bebas berkeliaran dimana-mana
Bahkan sengaja dibebaskan dengan alasan yang tak masuk logika
Mereka bebas berkeliaran
Merusak, merugikan, bahkan membunuh bangsa secara perlahan

Kita telah merdeka...!!!
Tapi kita terasa terpenjara dengan kebijakan-kebijakan yang ada
Kita telah terlepas dari penjajah
Tapi raut muka bangsa tak kunjung sumringah

Inilah indonesia
Tanah kita tercinta
Tanah yang kaya raya
Dan tanah yang penuh duka


Tapi...
Inilah tanah kita
Tanah dimana kita dibesarkan
Bahkan mungkin tanah dimana kita dikebumikan
Minggu, 18 Maret 2012

11
Contoh Proposal Penelitian



Click here to download file

A.    Latar Belakang
Istilah Bank Islam atau Bank Syariah merupakan fenomena baru dalam dunia ekonomi modern, kemunculannya seiring dengan upaya gencar yang dilakukan oleh para pakar Islam dalam mendukung ekonomi Islam yang diyakini akan mampu mengganti dan memperbaiki sistem ekonomi konvensional yang berbasis pada bunga. Sistem Bank Syariah menerapkan system bebas bunga dalam operasionalnya, dan karena itu rumusan yang paling lazim untuk mendefinisikan Bank Syariah adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam dengan mengacu kepada Al Qur’an dan Hadist sebagai landasan dasar hukum dan operasionalnya.
Perkembangan perbankan syariah telah memberi pengaruh luas terhadap upaya perbaikan ekonomi umat dan kesadaran baru untuk mengadopsi dan ekspansi lembaga keuangan Islam. Krisis perbankan yang terjadi sejak tahun 1997 telah membuktikan bahwa bank yang beroperasi dengan prinsip syariah dapat bertahan ditengah gejolak nilai tukar dan tingkat suku bunga yang tinggi. Kesadaran ini didukung oleh karakteristik kegiatan usaha bank syariah yang melarang bunga konvensional, dan pemberlakuan nisbah bagi hasil sebagai pengganti serta melarang transaksi keuangan yang bersifat spekulatif (al Gharar) dan tanpa didasarkan pada kegiatan usaha yang riil.
Indonesia adalah sebuah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Dari sisi ini patut menjadi potensi asset yang kuat jika dibarengi dengan kualitas sumber daya insani yang memadai. Sayang sekali potensi kependudukan yang begitu besar ternyata tidak secara otomatis memuluskan pelaksanaan sosialisasi perbankan syariah. Mayoritas masyarakat muslim masih buta tentang Bank Syariah termasuk juga para akademisi, professional, dan bahkan ulama.
Dengan melihat fenomena yang demikian, penulis bermaksud mengadakan peneltian dengan judul “PERSEPSI MASYARAKAT KECAMATAN NGALIYAN TERHADAP PERBANKAN SYARIAH” (Studi Kasus di Kecamatan Ngaliyan Semarang).

B.    Perumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang masalah dalam penelitaian ini, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
1.    Apakah terdapat perbedaan persepsi masyarakat kecamatan Ngaliyan terhadap perbankan syariah?
2.    Apa langkah-langkah yang dilakukan pihak perbankan syariah dalam memberikan pengertian pada masyrakat mengenai perbankan syariah dan apa yang membedakannya dengan perbankan konvensional?

C.    Tujuan Penelitian
Penelitan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat kecamatan Ngaliyan Semarang terhadap perbankan syariah.

D.    Manfaat Penelitian
Sebagai seorang manusia yang selalu rindu akan kesempurnaan pengetahuan, pasti berharap hasil penelitannya bermanfaat terutama bagi dirinya sendiri maupun untuk masyarakat pada umumnya. Manfaat penelitian ini antara lain:
1.    Untuk mengetahui gambaran dan pengetahuan tentang masyarakat di kecamatan Ngaliyan Semarang terhadap perbankan syariah.
2.    Bagi instansi perbankan syariah, untuk mengetahui pemahaman masyarakat di kecamatan Ngaliyan Semarang terhadap perbankan syariah sekaligus sebagai langkah untuk memberikan pemahaman pada masyarakat tentang perbankan syariah.
3.    Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dokumentasi ilmiyah yang bermanfaat untuk kegiatan akademik bagi penulis sendiri dan bagi pihak fakultas.

E.    Metode Penelitaian
1.    Fokus Penelitian
Agar pembahasan Skripsi ini tidak meluas, maka penulis perlu membatasi permasalahan yang akan di paparkan. Adapun fokus penelitian lapangan ini tertuju pada bagaimana persepsi masyarakat terhadap perbankan syariah.
2.    Pendekatan Penelitian
Skripsi yang penulis susun ini menggunakan pendekatan kualitatif, yang penekanannya tidak pada pengujian hipotesis melainkan pada usaha menjawab pertanyaan penelitian melalui cara berfikir formal dan argumentative. Penelitian ini memiliki karakteristik natural dan merupakan kerja lapangan dan bersifat deskriptif.
3.    Metode Pengumpulan Data
Berupa metode yang digunakan dalam menyusun skripsi ini diantaranya :
Interview
Interview atau wawancara adalah percakapan yang dilakukan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak yaitu, pewawancara (interviwer) dan yang diwawancara (interviwee). Metode ini digunakan untuk memperoleh informasi-informasi dari masyarakat mengenai pemahaman mereka terhadap perbankan syariah.
Dalam penelitian ini akan digunakan metode analisis kualitatif dengan menggunakan pola fenomenologi. Fenomenologi merupakan pandangan berfikir yang menekankan atau fokus kepada perdagangan-perdagangan subjektif manusia  interprestasi-interprestasi dunia.
Langkah-langkah analisis terletak pada tiga proses yang berkaitan yaitu :
1)    Mendeskripsikan Fenomena
Mengembangkan deskripsi yang komprehensif dan teliti dari hasil penelitian merupakan langkah pertama dalam analisis kualitatif
2)    Mengklasifikasikan
Klasifikasi merupakan langkah kedua dalam analisis kualitatif tanpa klasifikasi data tidak ada jalan untuk mengetahui apa yang kita analisis.

F.    Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan skripsi ini akan disusun sebagai berikut :
BAB I       PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II     TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini akan menguraikan tentang tinjauan pustaka yang berkaitan dengan topik dalam penelitian ini, yaitu pengertian persepsi, karakteristik bank syariah, pengguna  perbankan syariah, akuntabilitas perbankan syariah, aktivitas bisnis perbankan syariah, kendala perkembangan perbankan syariah di Indonesia, tinjauan penelitian terdahulu, kerangka pemikiran dan hipotesis.
BAB III    METODE PENELITIAN
Bab ini membahas ruang lingkup penelitian, populasi, sampel dan teknik pengambilan sampel, data dan sumber data, metode pengumpulan data, definisi operasional dan alat analisis yang direncanakan akan dipakai dalam penelitian ini.
BAB IV    ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Bab ini menguraikan tentang pelaksanaan penelitian, deskripsi data, hasil pengujian kualitas data, dan analisis data.
BAB V    PENUTUP
Bab ini adalah rangkaian terakhir penulisan yang berisi kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian, keterbatasan dari penelitian, serta saran bagi peneliti selanjutnya.
Jumat, 16 Maret 2012

7
Metodologi Penelitian

Click here to download file

Unsur Laporan Penelitian 1.    pendahuluan
2.    teori
3.    data
4.    analisis
5.    kesimpulan
tetapi unsur tersebut tidak otomatis kemudian menjadi struktur bab, yang kemudian menjadi di bawah ini.
Bab I pendahuluan
Bab II teori
Bab III data
Bab IV analisis
Bab VI kesimpulan
Bab I pendahuluan
Bab II teori
Bab III data dan analisis (persoalan 1)
Bab IV data dan analisis (persoalan 2)
Bab V data dan analisis (persoalan 3)
Bab VI kesimpulan
Di kualitatif : data dan analisis itu menyatu, sedangkan di kuantitatif : terpisah
Pengantar penelitian kualitatif

-    penelitian merupakan terjemahan dari research (re: kembali, dan search: mencari), yang berarti mencari kembali.

-    Why mencari kembali:
1.    mungkin sudah out of date,
2.    tidak berlaku pada fenomena sosial yang lainnya
3.    mungkin salah karena kelemahan dalam teori yang digunakan atau prosedurnya
4.    untuk menemukan hal baru yang tidak bisa dipahami dengan teori lama
5.    dll
    
-    Ada beberapa cara penemuan kebenaran non-ilmiah
1.    secara kebetulan
2.    secara common sense (akal sehat)
3.    melalui wahyu
4.    melalui intuitif
5.    secara trial and error
6.    karena kewibawaan
7.    spekulasi  (Nazir, 1988: 


-    dunia pengetahuan juga berbanding lurus dengan penelitian. Semakin berkaulitas penelitian, maka semakin berkembang ilmu pengetahuan


-    sikap seorang peneliti:
1.    suka dengan ilmu pengetahuan
2.    terbuka terhadap beragam pengetahuan
3.    teliti
4.    menggunakan prosedur yang benar dan bisa dichek oleh orang lain
5.    punya asumsi bahwa fenomena itu terjadi bukan karena kebetulan tetapi ada sebabnya
6.    menyukai tantangan untuk mendapatkan data yang asli (primer)
7.    memiliki rasa ingin tahu (intellectual curiosity)
8.    bertradisi akademik (khususnya reading dan writing habits)

Isi Proposal penelitianProposal : rancangan penelitian untuk skripsi
Judul
A.    latar belakang masalah ----- keunikan dari fenomena (persoalan) yang diteliti, menjelaskan persoalan, dan menjawab mengapa peneliti tertarik untuk menelitinya. Yang unik : - ekstrim, persoalan yang grey area (abu-abu, belum jelas jenis persoalannya).  Cerita fakta, bukan opini atau dasar hukum.
B.    rumusan masalah  ----- ambil sebagian dari aspek / focus yang diteliti. Apa masalah yang akan dicari jawabannya.
C.    tujuan penelitian ----- apa tujuan melakukan penelitian apakah mendiskripsikan, membuat kategori, menganalisis atau yang lainnya. Jangan membuat tujuan penelitian untuk mengetahui.
D.    manfaat penelitian ----- manfat praktis dan teoritis (akademik/keilmuan)
E.    kajian pustaka --- pustaka yang bersifat kajian yang mengkaji persoalan yang hampir sama, temuannya apa dan metodologinya bagaimana, apa kekurangannya sehingga peneliti memiliki kesempatan untuk meneliti fenomena yang sama
F.    kerangka teori ---- teori apa yang digunakan untuk membaca fenomena
G.    Metode penelitian --- dijelaskan cara menelitinya bagaimana secara rinci yang meliputi : jenis penelitian, sumber data dari mana, teknik pengumpulan data seperti apa, analisisnya seperti apa,
H.    Sistematika penulisan
Studi dokumen : membaca written texts  secara kritis (temuannya, logika apa, kekurangannya apa). Mengambil benang merah dari beberapa teks (jangan satu teks).
Makna gempa di kalangan kyai
1.    kyai a  -- azab
2.    kyai b -- musibah
3.    kyai c -- ujian
semua dobol karena pendapat itu hanya lah politic wacana

Kesalahan dalam judul 1.    Terlalu panjang sehingga sulit dipahami arahnya ke mana. Judul tidak ada titik dan komanya
2.    Terlalu pendek dan global sehingga tidak mudah diketahui fokusnya, seperti judul makalah
3.    Tidak mudah dipahami sebenarnya apa yang ditulis, hal ini karena judul itu seakan hanya untuk diri sendiri
4.    Rumusan judul bertabrakan dengan apa yang dimaksud, maunya kualitatif tetapi judulnya kuantitatif.
5.    Judul bermakna ganda. Hal ini biasanya terjadi jika ada induk judul dan anak judul
6.    Judul tidak menggambarkan apa-apa, ini berarti judul itu masih kosong apa sebenarnya tesis statemen yang diangkat.
7.    Terlalu detil sehingga tidak menarik, hal yang kecil juga ditulis

Kesalahan dalam membuat kerangka teori1.    Tidak ada teori yang digunakan untuk melihat fenomena/teks. Sehingga tidak jelas perspektifnya dan arahnya ke mana
2.    Teori itu dicampur dengan latar belakang atau kajian pustaka, padahal keduanya sangat berbeda, tidak bisa dicampur aduk.
3.    Teori diidentikan dengan definisi, ini sangat jauh dari harapan. Teori berbeda dengan definisi operasional ataupun ruang lingkup
4.    Hanya menjejer teori, padahal teori itu ada petanya yang disebut dengan “peta teori”. Teori fungsional tidak bisa dicampur dengan teori kritis” keculai ‘diadu’ lebih dahulu.
5.    Teori terlalu dikagumi, sehingga seakan teori itu harus diikuti. Padahal teori itu, kalau dalam penelitian kualitatif, dikagumi kemudian baru dihajar (dikritisi) jika tidak bisa digunakan.
6.    Teori tidak didialogkan dengan teori yang lain, seakan teori itu pasti benar, tidak ada koreksi. Padahal semua orang tahu bahwa teori juga buatan manusia yang berlaku pada ruang dan waktu

RESEARCH QUESTION (Pertanyaan Penelitian)Beberapa ketentuan tentang masalah penelitian
1.    Masalah penelitian harusnya yang paling awal yang dilakukan oleh seorang peneliti, bukan judulnya.
2.    Sering orang tidak mempunyai masalah penelitian padahal sudah akan membuat proposal.

Sumber masalah penelitian1.    Teks tertulis yang terdiri dari :
a.    koran, hampir setiap hari ada tulisan yang menarik untuk diteliti, terutama artikel karena di tempat ini selalu ada pendapat, data dan opini orang lain
b.    jurnal khusunya yang memuat hasil penelitian
c.    laporan hasil penelitian sehingga bisa diketahui kajian orang lain tentang persoalan yang sama
d.    buku hasil penelitian
2.    social texts yaitu semua fenomena yang muncul di tengah masyarakat. Masyarakat yang sedang berubah merupakan laboratorium yang menarik untuk diamati. Oleh karena itu, seorang peneliti harus sering “kluyuran” pergi dan keluar dari habitatnya untuk melihat dunia yang ada di sekitarnya

Kesalahan dalam mencari masalah 1.    Minta masalah penelitian atau judul dari orang lain, padahal belum tentu hal tersebut sesuai dengan minat dan kemampuan peneliti. Hal ini berbeda dengan meminta masukan, atau berdiskusi dengan orang lain
2.    Menunggu wangsit dari langit. Peneliti hanya menunggu kalau ada “ilham” yang lewat sehingga hanya berdo’a tetapi tidak mau berusaha.
3.    Menjiplak karnya orang lain. Peneliti mengambil tindakan yang sangat tidak terpuji dan tidak menunjukkan sebagai seorang peneliti. Hal ini jelas haram hukumnya bagi seorang peneliti.

Apa yang paling mudah dilakukan peneliti
1.    Sering membaca koran, jurnal penelitian, buku  kemudian dianalisis, dibaca kritis
2.    Sering jalan-jalan ketika melihat ada fenomena baru.
3.    Selalu mencatat persoalan yang dianggapnya layak yang suatu saat bisa dibuka kembali. Mungkin pada saat ini belum tepat diajukan, tetapi pada saat yang lain bisa jadi menjadi inspirasi penelitian yang berguna.
4.    Sering berdiskusi dengan orang yang ahli tentang persoalan yang diteliti (senior, peneliti yang lain dan sebagainya). Seorang peneliti tidak bisa memiliki sikap yang tertutup.
5.    Selalu mengasah untuk memperoleh masalah penelitian di mana saja dan kapan saja (whenever dan wherever).

Ketentuan merumuskan masalah penelitian1.    Menunjukkan pertanyaan yang sulit dijawab, maka harus dilakukan penelitian, tidak bisa dijawab dengan mudah. Kalau tinggal copy paste, maka tidak perlu diteliti.
2.    Logic (sesuai dengan metode yang dipilih, masalah yang diangkat).
3.    Mencerminkan aspek apa yang akan dicari jawabannya, seperti penjabaran dari judul
4.    Masing-masing masalah selanjutnya bisa menunjukkan pembahasanya, kalau bisa menjadi sebuah judul dalam laporan penelitian.
5.    Jelas menunjukkan apa yang sebenarnya akan dicari (tidak terlalu global, tetapi juga tidak terlalu detil)
6.    Dirumuskan dengan kata-kata yang mudah dipahami, “tidak munthel”.
7.    Satu poin menunjukkan satu masalah, bukan ganda.
8.    Untuk mempermudah biasanya dirumuskan dengan pertanyaan

Kesalahan dalam merumuskan masalah penelitian1.    Bukan pertanyaan penelitian yang tajam dan sulit dijawab sehingga memerlukan penelitian. Misalnya, apa kebijakan dari kepala sekolah (kebijakan ini sudah ada, tinggal copy paste sudah beres).
2.    Pertanyaannya sulit dijawab, sehingga ini juga bukan pertanyaan penelitian yang researchable. Misalnya, bagaimana dakwah di era global (tidak jelas mengumpulkan datanya)
3.    Hanya membalik judul. Hal ini juga bukan rumusan pertanyaan penelitian yang baik karena masih terlalu global. Rumusan masalah harus menunjukkan aspek yang diteliti
4.    Tidak mencerminkan data apa yang akan dicari, masih belum jelas menunjukkan aspek apa yang akan dibahas
5.    Tidak sesuai dengan metode yang dipilih. Maunya penelitian kuantitatif, tetapi cara merumuskan masalahnya menggunakan gaya penelitian kualitatif atau sebaliknya.
6.    Tumpang tindih antara rumusan masalah yang satu dengan yang lainnya. Isinya sebenarnya sama, tetapi dibuat dua rumusan masalah yang sebenarnya bisa dibuat satu.

Kesalahan penulisan metode penelitian1.    Tidak sesuai dengan pertanyaan penelitian yang dibahas, tetapi mengikuti keinginan.
2.    Terlalu global, bukan rinci (detil) seperti apa yang diwawancarai, siapa yang diwawancarai, bagaimana memperoleh informan, cara penyebaran angket bagaimana dan sebagai. Hal ini harus detil.
3.    Berisi pemaparan definisi. Metode penelitian itu langkah praktis, bukan teoritik apalagi definitif. Sehingga isinya bukan apa definisi tentang wawancara atau jenis penelitian
4.    Asal comot metode, kurang memahami apa yang dimaksud. Metode penelitian itu harus masuk ke dalam penelitian yang dilakukan, bukan hanya di atas kertas
5.    Logika penelitian berbeda antara yang diinginkan dengan apa yang ditulis. Maunya menulis ‘analisis dengan tajam’, tetapi ditulis dengan ‘analisis isi’.
6.    Sering ada istilah asing, tetapi kurang memahami apa sebenarnya yang dimaksud
7.    Outline sering tidak nyambung dengan masalah yang dibahas. Yang dibahas tidak muncul dalam outline

Kesalahan dalam melakukan observasi 1.    belum memperoleh rapport sudah melakukan obsevasi sehingga dicurigai
2.    bingung apa yang akan diobservasi ,  sehingga tidak fokus
3.    tidak mencatat, sehingga hilang semua
4.    tidak menguasai kerangka penelitian sehingga tidak berkembang
5.    kurang mengembangkan hipotesis (melakukan improvisasi)
6.    adanya opini peneliti sehingga banyak penghakiman, yang penting kumpulkan data, bukan penghakiman.

Kelebihan observasi:
1.    bisa melihat realitas, bukan ditipu
2.    bisa menjelaskan persoalan yang rumit menjadi mudah.

Kesalahan dalam angket 1.    pilihan pengukuran tidak tepat, tidak selamanya bisa diukur dengan interval. Mungkin dengan ordinal atau nominal
2.    bahasa sulit dipahami (terlalu asing, filosofis dsb) sehingga tidak mudah dipahami
3.    dalam penyebaran tidak memegang prinsip teknik random, tetapi asal-asalan (asal bertemu orang diminta untuk mengisi). Acak itu ada tekniknya. Bukan acak-acakan.
4.    angket ditinggal (tidak ditunggui), sehingga responden penelitiannya bergeser karena yang mengisi angket bisa jadi mbahnya, orang tua atau lainnya. Maka sebaiknya pengisian angket itu ditunggui.
5.    tidak variatif sehingga membosankan dan berakibat memudahkan menebak jawaban.
6.    keluar dari variable yang diteliti
7.    bingung tidak tahu apa yang dikerjakan, ini yang parah dan masih susah untuk dilanjutkan
Angket = questionare
Mereka yang mengisi angket disebut respondent. Teknik untuk menentukan respondent disebut dengan teknik random
Orang yang diwawancarai disebut informan. Teknik menentukan informan disebut snowball
Jenis angket dilihat dari keleluasaan responden untuk menjawab:
1.    angket terbuka - respondent memiliki keleluasaan, kebebasan, untuk menjawab. Misalnya “bagaimana pendapat bapak/ibu tentang poligami siri: jawab………………………
2.    angket tertutup---- respondent terikat oleh jawaban yang telah disediakan oleh peneliti. Respondent tinggal pilih jawaban a, b, c atau d
3.    kombinasi antara angket terbuka dan tertutup
Jenis angket dilihat dari informasi yang diinginkan ada:
1.    angket langsung-- menggali informasi langsung pada persoalan yang diteliti
2.    angket tidak langsung --- meminta pendapat tentang informasi yang diteliti.
3.    Kombinasi keduanya
komponen angket :
1.    informasi yang diinginkan (data)
2.    orang yang mengisi informasi (respondent)
3.    orang yang membutuhkan informasi (peneliti)
4.    alat yang digunakan untuk memperoleh informasi (angket), kalau di kualitatif peneliti sendiri.
konstruksi pertanyaan dalam angket
1.    ya – tidak, benar – salah
2.    skala interval (sangat setuju, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju)
3.    pilihan ganda (pilih salah satu jawaban a, b, c atau d)
4.    check list (pilihan jawaban, bisa lebih dari satu jawaban)
5.    kombinasi semua

apa criteria dekan fakultas menurut saudara
1.    memiliki kapasitas intelektual
2.    kaya
3.    ganteng
4.    wibawa
5.    dermawan

populasi itu keseluruhan yang diteliti, yang diambil untuk menjadi respondent disebut sample
populasi itu harus dicatat, atau ambil daftar yang sudah ada.
Jika mhs IAIN itu 5000, akan ambil sample 100?
Teknik pengumpulan data yang popular di dunia penelitian :
1.    Interview (wawancara)-- untuk kualitatif
2.    Observasi (pengamatan)--untuk kualitatif
3.    Angket (questionare) ---populer di kuantitatif
4.    Studi dokumen  --penelitian library research Untuk mengumpulka data

Kesalahan dalam interview

1.    Kurang siap mental
2.    Kurang sopan dalam penampilan
3.    Kurang menguasai pertanyaan (pedoman wawancara)
4.    Kurang bisa melakukan improvisasi
5.    Kurang memahami situasi dan kondisi saat wawancara
6.    Memaksa yang diwawancarai (interviewee) untuk mengeluarkan jawaban
7.    Menghakimi
8.    Mengarahkan jawaban
9.    Terlalu banyak bicara
10 Tidak mencatatat, tidak bisa mencatat dg cepat
11. Tetap melalukan wawancara disaat interviewee masih curiga
12. Terkesan kaku, tidak mengalir
13. menggunakan alat teknologi yang mencurigakan
14. mudah puas dengan wawancara pertama
15. tidak melakukan triangulasi

Fgd (focused group discussion) – interview kepada banyak orang dalam rangka checking data, penambahan data, sekitar 4-6 orang yang mengetahui persoalan yang diteliti.

Sukses tidaknya kegiatan interview ditentukan oleh:
1.    Pewawancara (interviewer)
2.    Yang diwawancarai (interviewee)
3.    Materi wawancara
4.    Situasi dan kondisi pada saat wawancara

Jenis wawancara:
1.    Tidak terstruktur  (informal)
2.    Terstruktur  (formal).
3.    Kombinasi keduanya

Tujuan wawancara:
1.    Menggali informasi
2.    Triangulasi (checking)
3.    Membantu analisis

Prosedur wawancara:
1.    Mencari key informan (orang yang diduga mengetahui persoalan yang diteliti).
2.    Menggunakan teknik snowball (bola salju menggelinding)

Teknik Melakukan wawancara
1.    Siap mental
2.    sopan dalam penampilan
3.    menguasai pedoman wawancara
4.    mampu melakukan improvisasi
5.    memahami situasi dan kondisi saat wawancara
6.    tidak memaksa
7.    tidak menghakimi
8.    tidak mengarahkan jawaban
9.    tidak terlalu banyak bicara
10 mampu mencatat dengan cepat
11. telah mendapatkan rapport dari interviewee
12. mengalir
13. menggunakan alat yang tidak mencurigakan
14. tidak puas dengan wawancara pertama
15. melakukan triangulasi

Kesalahan dalam menulis kajian pustaka (review/resensi)1.    Tidak relevan dengan apa yang dibahas. Membahas tentang pembelajaran, tetapi pustaka yang dibahas tentang kepemimpinan
2.    Tidak mengkritisi apa yang dibacanya, hanya memaparkan bahwa telah ada penelitian sebelumnya.
3.    Ada yang mencampuradukkan antara buku teori dengan buku kajian, padahal yang diperlukan itu pustaka yang bersifat kajian.
4.    Pustaka yang ditampilkan itu perlu dikomentari, tidak hanya dipaparkan apa judulnya dan apa isinya
5.    Tidak dijelaskan mengenai pintu masuk dari peneliti untuk membahas persoalan yang sama
6.    Sering melakukan klaim bahwa belum ada kajian sebelumnya yang membahas persoalan yang sama tanpa membaca sebelumnya
Sabtu, 10 Maret 2012

18
Trik Bermain Rubik

Untuk trik bermain rubik saya sediakan video tutorial bermain rubik dibawah ini. Silahkan download aja videonya dibawah ini:
Video #1
Video #2
Video #3

2
Sajak Pertemuan Mahasiswa

matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit
melihat kali coklat menjalar ke lautan
dan mendengar dengung di dalam hutan

lalu kini ia dua penggalah tingginya
dan ia menjadi saksi kita berkumpul disini
memeriksa keadaan

kita bertanya :
kenapa maksud baik tidak selalu berguna
kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga
orang berkata : "kami ada maksud baik"
dan kita bertanya : "maksud baik untuk siapa ?"

ya !
ada yang jaya, ada yang terhina
ada yang bersenjata, ada yang terluka
ada yang duduk, ada yang diduduki
ada yang berlimpah, ada yang terkuras
dan kita disini bertanya :
"maksud baik saudara untuk siapa ?
saudara berdiri di pihak yang mana ?"

kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya
tanah - tanah di gunung telah dimiliki orang - orang kota
perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja
alat - alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya

tentu, kita bertanya :
"lantas maksud baik saudara untuk siapa ?"
sekarang matahari semakin tinggi
lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala
dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
ilmu - ilmu diajarkan disini
akan menjadi alat pembebasan
ataukah alat penindasan ?

sebentar lagi matahari akan tenggelam
malam akan tiba
cicak - cicak berbunyi di tembok
dan rembulan berlayar
tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda
akan hidup di dalam mimpi
akan tumbuh di kebon belakang

dan esok hari
matahari akan terbit kembali
sementara hari baru menjelma
pertanyaan - pertanyaan kita menjadi hutan
atau masuk ke sungai
menjadi ombak di samodra

di bawah matahari ini kita bertanya :
ada yang menangis, ada yang mendera
ada yang habis, ada yang mengikis
dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana !

RENDRA
( jakarta, 1 desember 1977 )

2
Sajak Orang Lapar

kelaparan adalah burung gagak
yang licik dan hitam
jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam


o Allah !
burung gagak menakutkan
dan kelaparan adalah burung gagak
selalu menakutkan
kelaparan adalah pemberontakan
adalah penggerak gaib
dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin


kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur
adalah mata air penipuan
adalah pengkhianatan kehormatan


seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan
kelaparan adalah iblis
kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran


o Allah !
kelaparan adalah tangan-tangan hitam
yang memasukkan segenggam tawas
ke dalam perut para miskin


o Allah !
kami berlutut
mata kami adalah mata Mu
ini juga mulut Mu
ini juga hati Mu
dan ini juga perut Mu
perut Mu lapar, ya Allah
perut Mu menggenggam tawas
dan pecahan-pecahan gelas kaca


o Allah !
betapa indahnya sepiring nasi panas
semangkuk sop dan segelas kopi hitam


o Allah !
kelaparan adalah burung gagak
jutaan burung gagak
bagai awan yang hitam
menghalang pandangku
ke sorga Mu

6
Sajak Sebatang Lisong

menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang
berak di atas kepala mereka

matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak - kanak
tanpa pendidikan

aku bertanya
tetapi pertanyaan - pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis - papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan

delapan juta kanak - kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
..........................

menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana - sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan

dan di langit
para teknokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

gunung - gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes - protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam

aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair - penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak - kanak tanpa pendidikan
termangu - mangu di kaki dewi kesenian

bunga - bunga bangsa tahun depan
berkunang - kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta - juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra
.................................

kita mesti berhenti membeli rumus - rumus asing
diktat - diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa - desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata

inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan

RENDRA

6
Sosiologi Hukum



I.             HUKUM DAN STRATIFIKASI
A.      Pengertian
à  Hukum
Hukum atau ilmu hukum adalah suatu sistem aturan atau adat yang secara resmi dianggap meningkat dan dikukuhkan oleh penguasa, perintah atau otoritas mulalui lembaga atau institusi hukum.
Menurut thomas hobbes, hukum adalah perintah-perintah dari orng yang memiliki kekuasaan untuk memerintah dan memeksakan perintahnya kepada orang lain.Sedangkan menurut  S. M. Amin, hukum adalah sesuatu kumpulan peraturan yang terdiri dari norma dan sangsi-sangsi yang disebut hukum. Tujuan hukum adalah nengadakan ketrtiban dalam pergaulan manusia, sehingga keamanan dan ketertiban tetap terpelihara.
Berbeda lagi JCT Simorangkir, hukum adalah peraturan-peraturan yang bersifat memaksa yang menentukan tingkah laku manusia dalam lingkungan masyarakat yang dibuat oleh badan-badan resmi yang berwajib, pelanggaran mana berakibat diambil tindakan hukum tertentu.
à  Stratifikasi
Stratifikasi disini diartikan sebagai perbedaan penduduk atau masyarakat kedalam kelas-kelas secara bertingkat atau hirarkis. Sistem stratifikasi  menurut  sifatnya dapat digolongkan menjadi stratifikasi tertutup dan stratifikasi terbuka. Suatu sistem dikatakan stratifikasi tertutup manakala setiap anggota masyarakat tetap pada status yang sama pada orangtuanya, sedangkan dinamakan terbuka manakala setiap anggota masyarakat menduduki status berbeda dengan orang tuanya, bisa lebih tinggi atau lebih rendah.
Mobilitas sosial yang disebut tadi berarti perpindahan status pada stratifikasi sosial. Untuk menjelask an stratifikasi sosial ada tiga dimensi yang dapat dipergunakan yaitu: privilege, prestise, dan power. Ketiga dimensi itu dapat  dipergunakan sendiri-sendiri, namun juga dapat  digunakan secara bersama.  


B.       Hukum dan Gejala Social
Hukum dapat dikatakan bermanfaat jika ternyata ia hidup dalam masyarakat, dijadikan panduan oleh mereka dengan tujuan agar kehidupannya menjadi lebih teratur, damai dan berbahagia. Keguncangan sosial yang terjadi dalam masyarakat diharapkan dengan cepat bisa dinetralkan kembali melalui penegakan hukum (salah satunya dengan penjatuhan sanksi) oleh aparat negara yang diberikan kekuasaan untuk itu.Penegakan hukum pada hakikatnya bertujuan untuk menciptakan kedamaian dalam pergaulan hidup manusia. Soerjono Soekanto berpendapat bahwa kedamaian dalam pergaulan hidup ini berarti di satu pihak adanya ketertiban (yang bersifat ekstern antarpribadi atau interpersonal), dan di lain pihak adanya ketenteraman (yang bersifat interpribadi atau personal).
Jika keduanya serasi, barulah tercapai suatu kedamaian. Meningkatnya pengetahuan hukum dan akses informasi bagi masyarakat, ternyata memengaruhi reaksi mereka terhadap aturan-aturan hukum yang berlaku dan perilaku-perilaku elite dalam menjalankan kekuasaannya untuk menciptakan dan menegakkan hukum. Reaksi yang dilakukan baik berupa kegiatan-kegiatan individual atau aksi-aksi yang melibatkan orang banyak, sedikit banyak telah memberikan tekanan kepada lembaga-lembaga negara dalam melaksanakan kewenangannya.

C.      Hukum sebagai variable kuantitatif
Suatu variable adalah karakteristik dari suatu gejala yang berubah-ubah, tergantung dari situasi atau kondisi dimana keadaan tersebut berada atau terjadi ada suatu pendapat dalam sosiologi yang melihat hukum sebagai suatu variable kuantitati, oleh karena itu situasi dan kondisi, hukum dapat bertambah atau bahkan berkurang di dalam perwujutannya.
Secara kuantitatif terjadi lebih banyak proses hukum apabila frekuensi gugatan pada suatu pengadilan negeri adalah tinggi, bila dibandingkan dengan keaadan suatu pengadilan yang sama sekali kurang terjadi gugatan-gugatan
II.          BUDAYA HUKUM
a)        pengertian
Orang awam mengatakan bahwa Budaya adalah pandangan filosofis mengenai apa yang dipercayai dan di yakini sebagai sesuatu yang baik dan harus dijaga. Sedangkan Hukum ialah sebuah aturan yang tertulis yang harus ditaati peraturannya dan apabila melanggarnya mendapat sebuah sanksi. Sedangkan menurut Friedman adalah bagian dari budaya umum kebiasaan, opini, cara kerja dan berfikir.
b)        Interaksi antara Hukum dengan Kultur Sosial
Manusia adalah makhluk sosial, dan tidak bisa hidup di luar jejaring tatanan, bagaiman dan apapun bentuknya. Sosialitas mengaskan bahwa manusia itu adalah makhluk berkelompok seperti semut, lebah dan lainnya.
Hukum yang menentukan kapan seorang itu ada, kapan seorang memilki sesuatu dan seterusnya. Secara ekstrem bisa sikatakan bahwa tanpa hukum segala sesuatu tidak ada. Hukum juga membangun arsenal kelengkapan, seperti prosedur menjalankan hukum, administrasi dan personel khusus. Kehidupan hukum memasuki suatu era baru, dengan membangun konsep, asas dan bahkan logikanya sendiri.
Teori Lawrence Meir Friedman, bahwa substansi, struktr dan budaya hukum adalah satu kesatuan dalam melakukan upaya penegakan hukum. Dengan demiian sebaik apapun suatu perundang-undangan apabila tidak disertai dengan struktur pelaksana yang baik dan budaya yang mendukung maka akan sulit untuk melakukan penegakan hukum. Budaya masyarakat Indonesia memang sangat erat dengan nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong.

c)        Konstruksi tentang Hukum
Peringatan ketaatan warga masyarakt terhadap aturan hukum tidaklah selalu harus dengan ancaman sanksi, tapi besar juga pengaruhnya oleh suatu penciptaan kondisi yang lebih baik terhadap penghargaan aturan hukum karena adanya sikap tindak panutan pemimpin masyarakat atau tokoh masyarakat, pejabat publik ataupun para penegak hukum itu sendiri.
Tujuan akhir suatu aturan hukum selain terciptanya suatu ketertibanm tentunya juga keadilan serta tujuan lain yangtak kalah pentingnya yang mendukung kedua tujuan tersebut diatas adalah peningkatan kesadarn hukum masyarakat, persepsi positif terhadap aturan hukum, suatu tingkat kebudayaan atau beradaban yang lebih tinggi dan modern. Salah satu kekauatan untuk mengubah mental dan perilaku aparat pemeintah dan penegakan hukum sebtulnya terletak pada msyarakat itu sendiri. Bila budaya memberikan upeti untuk mempercepat urusan di pemerintahan dilawan denagn kebulatan tekad serta tindakan nyata bukan mustahil hal tersebut akan berangsur-angsur hilang.

III.       KUKUM DAN KEKUASAAN
A.      Pemikiran Tentang Hukum
a)         Savigny dan Bentham.
Kontrovesi antara mereka bertanggapan bahwa hukum seharusnya mengikuti dan bukan memimpin, serta harus tenang dalam menghadapi sentimen sosial yang telah dirumuskan dengan jelas, dan mereka yang berpendapat bahwa hukum harus merupakan faktor yang mennetukan dalam menciptakan norma-norma baru, merupakan salah satu tema penting yang selau terulang dalam sejarah pemikiran hukum dalam kaitannya dalam masyarakat.
b)         Erhelich.
“Hukum yang hidup dalam masyarakat” yangdidasarkan pada tndak tanduk dalam kehidupan sosial, yaitu didasarkan pada norma negara yang bersifat memaksa, norma-norma yang ditaati masyarakat, baik mengenai kebiasaan-kebiasaan yang ersifat keagamaan, kehidupan berumah tangga maupun hubungan perniagaan adalah hukum walaupun tidak memperoleh  pengakuan atau dirumuskan oleh norma negara.
Norma hukum negara yang ditetapkan oleh yang berwenang (pembuat Undang-ndang) yang terutama menyangkut kepentingan kenegaraan merupakan “politik hukum negara”. Sedangkan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat dinamakan “kesadaran hukum masyarakat”.

B.       Ajaran-ajaran Hukum
a.         Ajaran Legisme.
Ø  Mengidentikan hukum dengan Undang-undang. Berarti dipandang seperangkat aturan-aturan yang diharapkan agar ditaati oleh anggota masyarakat.
b.         Ajaran Fungsional dan Hukum
Ø  Melihat hukum dari fungsi bekerjanya. Hukum dipandang sebagai instrumen untuk pengaturan masyarakat.
c.          Ajaran Hukum Kritis.
Ø  Memendang hukum sebagai bagian dari masyarakat.

C.      Watak Hukum
à  Sifat Keterbukaan.
à  Hukum memberitahu lebih dahulu.
à  Hukum seharusnya terbuka, jujur, tidak selingkuh. Sifat hukum yang demikian mempunyai nilai strategis besar bagi lalu lintas kehidupan sosial.
à  Kejelan Tujuan.
à  Usaha mengatasi goncangan.

D.      Pengertian Kekuasaan
Kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan oleh seorang atau kelompok guna meyakinkan kewenangan tersebut sesuai dengan kewenangan yang dibertakan, kewenangan tidak bleh dijalankan melebihi kewengan yang terperoleh.
Menurut Maclver dapat dijumpai tiga pola umum dari lapisan-lapisan kekuasaan atau piramida kekuasaan, yaitu:
1)         Tipe Kasta.
Yaitu sistem lapisan kekuasaan denagn garis-garis pemisah yang tegas dan kaku. Biasanya dijumpai pada msyarakat yang berkuasa, diman hampir tidak terjadi gerak sosial yang vetikal. Dan berlakunya hukum lebih banyak didasrkan pada paksaan dari atas.
2)         Tipe Oligarkis
Lapisan kekausaan yang masih mempunyai garis pemisah yang tegas, akan tetapi dasar pembedaan kelas-kelas sosial ditentukan oleh kebudayaan masyarakat, terutama dalam hal kesempatan yang debriakn kepada warga masyarakat untuk memperoleh kekuasan terebut.
3)         Tipe Demokratis
Berlaku hukum secara sosiologis dirahkan pada keseimbangan antara keinginan dari penguasa dengan kepentingan-kepentingan masyarakat luas. Walaupun keseimbngan tersebut ideal, tetapi tidak menutup kemungknan bahwa hal tersebut dapat terjadi.


IV.             HUKUM DAN HAM
1)        Pengertian Keduanya
a)        Pengertian
HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia, sesuai dengan kodratnya. Sedangkan menurut Jan Meterson HAM adalah hak-hak yang melekat pada manusia yang tanpanya manusia bisa hidup sebagai manusia dan juga munurut pandangan jonh Locke bahwa HAM itu hak-hak yang di berikan oleh Tuhan Yang Maha Esa sebagai hak kodrati. Dan dijelaskan lagi dalam UU No 39 Tahun 1999.
b)        Ciri pokok HAM
v  HAM tidak perlu di berikan, dibeli tau diwarisi. HAM adalah bagian dari manusia secara otomatis.
v  Berlaku untuk semua orang tanpa memandang suatu apapun.
v  Tidak bisa dilanggar.
v   
2)        HAM dalam Perundang-undangan Nasional
Tercantum dalam TAP MPR No. XVII/1998, amandemen Uud 1945 yang secara ekspisit sudah memasukkan pasal-pasal cukup mendasar mengenai hak-hak asasi manusia, UU No. 39/1999 tentang Hak-hak Asasi Manusia, dan seterusnya.

3)        Pelanggaran HAM dan Pengadialn HAM
Pelangaran HAM adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja maupun tidak taupun kelalaian yang secara hukum mengurangi, menghlangi, membatasi dan tau mencabut HAM seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-undang ini, dan tidak didapatkan atau dikhawatirkan tidajk akan memperoleh penyelesaian hukum yang berlaku. Sedangkan bentuk pelanggaran HAM ringan dari kedua bentuk pelanggaran HAM berat itu.
Pelanggaran terhadap HAM dapat dilakukan oleh baik aparatur negara maupun bukan aperatur negara (UU No. 26/200 tentang pengadilan HAM). Karena itu penindakan terhadap pelanggaran HAM tidak boleh hanya ditujukan terhadap aparatur negar, tetapi juga pelanggaran yang dilakaukan bukan oleh aparatur negara. Penindakan terhadap pelanggaran HAM mulai dari penyidikan, penuntutan, dan persidangan terhadap pelanggran yang terjadi harus bersifat non-diskriminatif dan berkeadilan. Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus yang berada di lingkungan pengadilan umum.

4)        Supremasi Hukum dalam rangka peningkatan pelindungan HAM
a.    Terus menyempurnakan produk-produk hukum, perundang-undangan tentang HAM.  Produk hukum tersebut perlu disesuaikan dengan semangat knstitusi yang secara ekplisit sudah membri dasarbagi perlindungan dan jaminan atau HAM.
b.    Melakukan Inventarisasi, mengevaluasi, dan mengkaji seluruh produk hukum, KUHP dan KUHAP, yang berlaku yang tidak sesuai, bahkan bertentangan dengan HAM. Termasukbeberapa UU yang dihasilkan dalam sepuluh tahun terakhir ini.
c.    Mengembangkan kapasitas kelembagaan pada instansi-instansi peradialn dan instansi lainnya yang terkait degan penegakan supremasi hukum dan perlindungan HAM.

V.          HUKUM DAN RESOLUSI KONFLIK
a.        Pengertian
Menurut wester (1966) istilah “conflict” didalam bahasa aslinya berarti suatu perkelahian, peperangan, atau perjuangan yaitu berupa konfrontasi fisik antara beberapa pihak tetapi arti kata itu kemudian berkembang dengan masuknya “ketidak kesepakatan yang tajam atau oposisi atas berbagai kepentingan, ide dan lain-lain. Istilah tersebut sekarang juga menyentuh aspek psikologis dibalik konfrontasi fisik yang terjadi, selain konfrontasi fisik itu sendiri.

b.        Cara Pendakatan
Dalam pendekatan untuk bisa mempermecahkannya itu harus kedua belah pihak harus bisa menego agar tidak menimbulkan kepincangan dari salah satu pihak.

c.         Dinamika Masyarakat dan Sosiologi Konflik
Masyarakat selalu mengalami perubahan social baik pada nilai maupun stukturnya. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh gerakan-gerakan gerakan-gerakan social dan individu dan kelompok sosialyang menjadi bagian dari masyarakat. Ilmu sosiologi khususnya sosiologi konflik dilahirkan oleh prubahan-perubahan sosiologi dan dinamika gerakan social dari masa klasik sampai kontemporer.

d.        Alternative Penyelesaian Konflik
Cara alternatif penyelesaian sengketa, yaitu dengan adanya ADR (Alternative Despute Resolution) yakni pemnyelesaian sengketa di luar pengadilan secara damai. Istilah lain sejenis ini di Indonesia dikenal seperti :
Ø  Pilihan penyelesaian sengketa (PPS)
Ø  Mekanisme alternative penyelesaian sengketa (MAPS)
Ø  Pilihan penyelesaian sengketa  diluar pengadilan.
Ø  Mekanisme penyelesian sengketa secara kooperatif dan Alternatif penyelesaian sengketa (APS)

4
Sistem Moneter Islam dan Konvensional dalam Tinjauan Sejarah



Sistem Moneter Islam dan Konvensional dalam Tinjauan Sejarah

Sistem moneter yang berlaku didunia sekarang ini keberadaannya telah ada setelah melalui beberapa masa evolusi. Sistem moneter yang telah berlaku pada masa Nabi Muhammad saw adalah bimetallic standard dimana emas dan perak (dinar dan dirham) bersirkulasi secara terus-menerus.
Ketika khalifah kedua dari Bani Umayyah (41-132 H/662-750 M)2 rasio antara dinar dan dirham adalah 1: 12, dan ketika Bani Abassyiah berkuasa (132-656 H/ 750-1258 M) rasionya mencapai 1:15 atau kurang.3 Berhubungan dengan turunya rasio dinar dan dirham secara terus menerus, nilai tukar antara dinar dan dirham telah berfluktuasi secara lebar pada perbedaan waktu dan dalam perbedaan bagian-bagian negara Muslim. Rasio itu turun rendah sekali sampai mencapai 1:35 dan bahkan 1:50.4 Menurut al-Maqrizi (w. 845 H/ 1442 M) dan muridnya al-Asadi (wafat setelah 854 H/ 1450 M), instabilitas ini dimungkinkan karena adanya pergantian atau keluarnya sirkulasi coin yang buruk dengan coin yang baik5, dimana penomena ini selanjutnya pada 16 abad yang akan datang dikenal sebagai hukum Grasham (Gresham’s Law).
Amerika Serikat telah mengadopsi bimetallic ini pada tahun 1792. Kemudian pada tahun 1873 Amerika untuk mencabut perak dari peredaran uang karena fluktuasi harga antara emas dan perak. Pada tahun 1880 standar internasional dan mayoritas negar-negara dari bimetallic dan silver monometallic beralih kepada standar emas dengan menjadikan emas sebagai basis mata uang mereka. Dibawah standar ini, nilai mata uang sebuah negara secara sah ditentukan dengan berat yang tetap dari emas, dan otoritas moneter berkewajiban mengubah permintaan mata uang domestik kedalam emas yang secara legal telah ditetapkan tingkatnya.
Berdasarkan sejarahnya terdapat tiga jenis dari standar emas : standar coin emas (the gold coin standard) ketika coin-coin emas aktif dalam sirkulasi, standar lantakan emas (the gold bullion standard) ketika coin-coin emas tidak dalam sirkulasi tetapi otoritas moneter telah mengambil untuk menjual emas lantakan melawan mata uang lokal dan standar pertukaan emas (the gold exchange standard) atau yang dikenal Bretton Woods System ketika otoritas moneter disyaratkan untuk menukar mata uang domestik dengan dollar US yang dapat dikonversikan kedalam emas dengan paritas yang tetap. Sistem ini berakhir pada pada bulan Agustus 1971 karena defisit AS pasca perang dunia kedua membawa pada penurunan secara kontinyu dalam kepemilikan emasnya dan tak dapat ditentukan kemampuannnya untuk menjaga konvertabilitas dollar AS kedalam emas.
Sejak berakhirnya Bretton Woods System, sistem moneter dunia mengadopsi sistem baru yaitu full fledged managed money standard yang secara mutlak tak ada hubungannya dengan emas. Sistem ini secara resmi diimplemetasikan setelah ratifikasi amandemen kedua terhadap artikel persetujuan IMF pada April 1978. Setelah sistem ini diberlakukan, perekonomian dunia menghadapi tingkat inflasi yang tinggi dan pengaruh instabilitas dalam tingkat pertukaran. Salah satu penyebab utama tingginya tingkat inflasi adalah ekspansi yang cepat atas supply uang selama masa 1971-1990-an lebih dari lima kali negara-negara industri dan hal ini hampir 12 kali di dunia.9 Sedangkan instabilitas dalam tingkat pertukaran terjadi karena diberlakukannya sistem nilai tukar mengambang (floating exchange rate regime) pada Maret 1973. Bagaimanapun, untuk menstabilkan nilai tukar dalam sebuah sistem floating exchanges rate diperlukan kedisiplinan untuk kebijakan baik fiskal maupun moneter.
Tidak ada teks yang spesifik dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang dapat menjelaskan bahwa sistem berdasarkan bimetallic standar yang berlaku selama masa nabi Muhammad SAW dan sejarah Islam pertama atau bahkan full-bodied monometallic standard yang berlaku kemudian merupakan kewajiban bagi umat Islam untuk menggunakannya secara terus-menerus. Hal ini secara jelas terlukiskan dalam fakta sejarah bahwa Khalifah Umar bin Khatab pernah berpikiran untuk memperkenalkan kulit unta sebagai mata uang yang kemudian membawa refleksi bagi tulisan-tulisan para fukaha’ (ahli fikih) melalui sejarah Muslim. Contoh, Imam Ahmad bin Hambal (w 241H/1328M) telah mengamati bahwa tidak ada kerusakan dalam pengadopsian mata uang lain yang secara umum diterima oleh masyarakat.11 Ibnu Hazm (w 456H/1064M) juga tidak menemukan beberapa alasan bagi kaum Muslimin membatasi mata uangnya hanya kepada dinar dan dirham.12 Ibnu Taimiyyah (w 505H/1328H) merasa bahwa dinar dan dirham tidak dinginkan untuk demi milik mereka saja karena kemampuannya membantu menjadi media alat pertukaran.
Namun, hal ini bukan berarti bahwa seseorang dapat mengeluarkan mata uang dalam berapapun jumlahnya. Para fukaha’ secara mayoritas telah menekankan bahwa mata uang harus diterbitkan oleh aturan otoritas dan harus mempunyai nilai yang stabil, mampu menunjukan efisiensi fungsinya sebagai measure of value, a medium of exchange, dan a store of purchasing power. Stabilitas nilai uang merupakan prioritas utama dalam bidang manajemen moneter karena stabilitas nilai uang akan dapat membantu perwujudan tujuan lainnya16 seperti pemenuhan kebutuhan, distribusi kekayaan dan pendapatan yang sama, tingkat pertumbuhan ekonomi optimum, full employment dan kestabilan ekonomi.


2
Poligami


A. PENGERTIAN DAN HUKUM POLIGAMI

            Kata-kata “poligami” terdiri dari kata “poli” dan “gami”. Secara etimologi, poli artinya banyak, gami artinya istri. Jadi poligami itu artinya beristri banyak. Secara terminologi, poligami yaitu ” seorang laki-laki mempunyai lebih dari satu istri”. Atau ”seorang laki-laki beristri lebih dari seorang, tetapi dibatasi paling banyak empat orang”.
            Allah SWT membolehkan berpoligami sampai empat orang istri dengan syarat berlaku adil kepada mereka. Yaitu adil dalam melayani istri, seperti urusan nafkah, tempat tinggal, pakaian, giliran dan segala hal yang bersifat lahiriyah.
Jika tidak berlaku adil maka cukup satu istri saja (monogami). Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian, jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja. Yang demikian itu lebih dekat untuk tidak berbuat aniaya. (Q.S. an Nisa’:3)
           
            Islam memandang poligami lebih banyak membawa resiko/madharat daripada manfaatnya, karena manusia itu menurut fitrahnya mempunyai watak cemburu, iri hati, dan suka mengeluh. Watak-watak tersebut akan mudah timbul dengan kadar tinggi, jika hidup daam lingkungan keluarga yang poligamis. Dengan demikian poligami bisa menjadi sumber konflik dalam kehidupan keluarga, baik konflik suami dengan istri-istri dan anank-anak dari istri-istrinya, maupun konflik antara istri besrta anak-anaknya masing-masing. Karena itu hukum asal dalam perkawinan menurut Islam adalah monogami, sebab dengan monogami akan mudah menetralisasi sifat/watak cemburu, iri hati, dan mengeluh dalam kehidupan keluarga yang monogamis. Berbeda dengan kehidupan keluarga yang poligamis, orang akan mudah peka dan terangsang timbulnya perasaan cemburu, iri hati/dengki, dan suka mengeluh dalam kadar tinggi, sehingga bisa mengganggu ketenangan keluarga dan dapat pula membahayakan keutuhan keluarga. Karena itu poligami hanya bolehkan, bila dalam keadaan darurat, misalnya istri ternyata mandul, sebab menurut islam, anak itu merupakan human investment yang berguna bagi manusia setelah ia meninggal dunia, yakni bahwa amalnya tidak tertutup berkah adanya keturunan yang shaleh yang selalu berdoa untuknya. Maka dalam keadaan istri mandul dan suami tidak mandul berdasarkan keterangan medis hasil laboratoris, suami diizinkan berpoligami dengan syarat ia benar-benar mampu mencukupi nafkah untuk semua keluarga dan harus bersikap adil dalam pemberian nafkah lahir dan giliran waktu tinggalnya.
           

Megenai hal tersebut, dalam PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1974 TENTANG  PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN, BAB VIII TENTANG BERISTRI LEBIH DARI SEORANG

Pasal 40
Apabila seorang suami bermaksud untuk beristri lebih dari seorang maka ia wajib mengajukan permohonan secara tertulis kepada pengadilan.

Pasal 41
Pengadilan kemudian memeriksa mengenai:
a.         Ada atau tidaknya alasan yang memungkinkan seorang suami kawin lagi, ialah:
            - bahwa istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri
            - bahwa istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan
            - bahwa istri tidak dapat melahirka keturunan
b.         Ada atau tidaknya persetujuan dari istri, baik persetujuan lisan maupun tertulis, apabila persetujuan itu merupakan persetujuan lisan, persetujuan itu harus diucapkan didepan sidang pengadilan.
c.         Ada atau tidak adanya kemampuan suami untuk menjamin keperlua hidup istri-istri dan anak-anak, dengan memperlihatkan:
i.          surat keterangan mengenai penghasilan suami yang ditanda-tangani oleh         bendahara tempat bekerja; atau
            ii.         surat keterangan pajak penghasilan; atau
iii.                surat keterangan lain yang dapat diterima oleh pengadilan
d.         Ada atau tidaknya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri-istri dan anak mereka dengan pernyataan atau janji dari suami yang dibuat dalam bentuk yang ditetapkan untuk itu.
Berkenaan dengan ketidakadilan suami terhadap istri-istrinya, Nabi Muhammad SAW bersabda:
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ النَّبِىُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَتْ لَهُ اِمْرَأَتَانِ فَمَالَ اِلَى اِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَشِقَّهُ مَائِلٌ  (رواه ابو داوود والترمذى والنسائ وابن حبان)
Dari Abu Hurairah ra. Sesungguhnya Nabi saw bersabda: Barangsiapa yang mempunyai dua orang istri, lalu memberatkan pada salah satunya, maka ia akan datang pada hari kiamat dengan bahunya miring (H.R. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

B. POLIGAMI DALAM AGAMA-AGAMA SEBELUM ISLAM

a. Taurat dan Poligami
            Kalau kita meneliti Naskah Taurat yang ada sekarang ini, yaitu lima unit yang ada pada permulaan Kitab Suci Perjanjian Lama, maka akan kita temukan bahwa disana tidak ada larangan terhadap poligami; malahan dalam Naskah Perjanjian Lama ada yang berpoligami tidak terbatas, umpamanya pada pasal-1 dari Kitab Raja-Raja diterangkan bahwa nabi Sulaiman mempunyai istri lebih dari tujuh ratus wanita bangsawan dan tiga ratus budak-budak, dan Allah sajalah yang Maha Mengetahui betul-tidaknya berita itu.
            Meskipun Taurat tidak melarang adanya poligami, tetapi ulama-ulama Yahudi membeci poligami. Di Mesir ada dua golongan umat Yahudi, yaitu aliran Rabbaniyun dan aliran Qarra’iyun. Aliran Rabbaniyun mengatakan: “ tidaklah pantas seorang laki-laki mempunyai istri lebih dari satu orang, laki-laki itu bertugas supaya mengucapkan sumpah pada waktu aqad nikah, bahwa ia akan menetapi larangan ini, walaupun tidak ada larangan dan pembatasan dalam Kitab Taurat”. Sedangkan golongan Qarra’iyun mengatakan “ boleh melakukan poligami dengan syarat tidak menyakiti, baik istri yang lama maupun istri yang baru”. Misal, dengan mengarahkan perhatiannya hanya kepada satu istrinya saja, tanpa memperhatikan yang lain. Maksudnya, poligami boleh dilakukan dengan syarat suami bisa berlaku adil terhadap istri-istrinya, aik dalam pergaulannya sebagai suami-istri, maupun dalam memberi nafkah dan kebutuhan istri-istrinya.
b. Injil dan Poligami
            Tidak ada dalam kata-kata Nabi Isa suatu keterangan yang jelas tentang landasan perkawinan monogami atau poligami. Tetapi, Bapak-Bapak gereja dan para pembuat undang-undang gereja, ada yang berpendapat bahwa ada naskah dalam Perjanjian Baru yang menyinggung tentang diharamkannya poligami, diantaranya: Injil Markus, pasal 10 ayat 10-12, Injil Lukas, pasal 16 ayat 18, menerangkan bahwa Nabi Isa Al Masih bersabda: ”Barangsiapa menceraikan istrinya lalu menikah dengan wanita lain, maka hukumnya dia berzina dengan wanita yang dinikahinya itu. Demikian juga kalau seorang wanita yang menceraikan suaminya dan menikah dengan laki-laki lain, maka hukumnya dia berzina dengan laki-laki itu”.
            Sebagian dari Bapak-Bapak gereja mempunya pengertian tentang ayat ini, bahwa agama Kristen mengharamkan menikah lagi kepada seorang yang telah menceraikan istrinya, kecuali kalau istrinya sudah meninggal setelah diceraikannya. Demikan juga dengan si istri yang telah diceraikan itu haram menikah dengan laki-laki lain selama suami yang menceraikannya itu masih hidup
      
      C. HIKMAH POLIGAMI

            Mengenai hikmah diizinkan berpoligami (dalam keadaan darurat dengan syarat berlaku adil) antara lain adalah sebagai berikut:
1. Untuk mendapatkan keturunan bagi suami yang subur dan istri mandul
2. Untuk menjaga keutuhan keluarga tanpa menceraikan istri, sekalipun istri tidak dapat               menjalankan fungsinya sebagai istri, atau ia mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat di sembuhkan
3. Untuk menyelamatkan suami dari yang hypersex dari perbuatan zina dan krisis akhlak lainnya.
4. Untuk menyelamatkan kaum wanita dari krisis akhlak yang tinggal di negara atau masyarakat yang jumlah wanitanya jauh lebih banyak dari kaum prianya, misalnya akibat dari peperangan yang cukup lama.

KESIMPULAN
            Dari uraian diatas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa dalam berpoligami ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang yang ingin melakukannya, diantaranya harus bisa bersikap adil terhadap istri-istrinya dalam segala hal. Islam dan Yahudi membenarkan hal tersebut, lain halnya dengan Kristen yang melarang adanya praktek tersebut. Tentunya dengan landasan hukum mereka masing-masing

PENUTUP
            Demikainlah yang dapat kami sampaikan. Sebagai manusia biasa pasti dari yang telah kami sampaikan masih banyak kekurangan dan banyak kesalahan yang belum kami ketahui. Karena itu kami berharap kepada teman-teman sekalian agar dapat membantu kami untuk perbaikan makalah-makalah kami yang selanjutnya, karena dari hal yang kecil lama kelamaan akan menjadi sesuatu yang besar.
            Semoga makalah ini dapat sedikit menambah pengetahuan kita dan bermanfaat bagi kehidupan kita, saat ini, esok, dan selamanya. Amin.....

DAFTAR PUSTAKA
·         Al Qur’an Karim
·         Ghozali, Abdul Rahman, Fiqh Munakahat, Jakarta: Kencana, 2008, cet. Ke-3
·         Al ’Atthar, Abdul Nasir Taufiq, Poligami Ditinjau Dari Segi Agama, sosial, dan Perundang-undangan, Jakarta: Bulan Bintang, 1976, cet. Ke-1
·         Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1974

 
Waro Muhammad | © 2010 by DheTemplate.com | Supported by Promotions And Coupons Shopping & WordPress Theme 2 Blog | Tested by Blogger Templates | Best Credit Cards