Tradisi Maulid Nabi di Tanah Jawa dan Madura

Sebagai agama dakwah, Islam tidak berhenti dan berada di luar realitas kehidupan manusia, tetapi masuk keseluruh segi kehidupannya. Keberadaan Islam dalam masyarakat muslim baik individu maupun sosial bersifat unik. Hal ini karena Islam tidak berusaha membentuk kebudayan yang monolitik. Nyata bahwa masyarakat Islam di suatu daerah dengan daerah yang lainnya tidak selalu memiliki produk kebudayaan yang seragam ( sama ). Islam telah memberikan peluang kepada pemeluknya untuk memelihara dan menegembangkan kebudayaan – kebudayaan masing – masing, sepanjang tidak menyalahi dan melenceng jauh dari prinsip – prinsip universal dari Islam sendiri.
 Masyarakat Jawa dipercaya memiliki kebudayan yang khas, dan masyarakat yang menjunjung tinggi sifat – sifat luhur dan kebudayaan ( termasuk berbagai macam seni, sastra dan kepercayaan ) yang dimilikinya. Dalam konteks Indonesia, kebudayaan Jawa merupakan salah satu kebudayaan lokal yang berpengaruh penting karena dimiliki sebagian besar etnik terbesar di Indonesia. Nilai – nilai Islam memiliki arti penting bagi kebudayaan Jawa karena mayoritas masyarakat Jawa beragama dan memeluk agama Islam. Dengan demikian hubungan nilai – nilai Islam dengan kebudayaan Jawa menjadi menarik karena keberadaan Islam dan kebudayaan Jawa yang cukup dominan pada bangsa Indonesia
2.       Pembahasan
A. Proses Akulturasi Budaya Jawa Dan Islam
Dalam proses akulturasi ini ada 2 pendekatan mengenai bagaimana cara yang ditempuh supaya nilai-nilai islam dapat di serap menjadi bagian dari budaya jawa. Yang pertama : Islamisasi kultur jawa mulai pendekatan ini budaya jawa diupayakan agar tampak bercorak islam baik secara formal maupun secara substansial yang ditandai dengan penggunaan istilah-istilah islam, nama-nama islam, pengambilan, peran tokoh islam pada berbagai cerita lama, sampai kepada penerapan hukum-hukum, norma-norma islam dalam berbagai aspek kehidupan.
Pendekatan kedua : Jawanisasi islam, yang diartikan sebagai upaya penginternalisasian nilai-nilai islam melalui cara penyusupan kedalam budaya jawa. Maksudnya disini adalah meskipun istilah-istilah dan nama-nama jawa tetapi dipakai, tetapi nilai yang dikandungannya adalah nilai-nilai islam sehingga islam menjadi men-jawa. Berbagai kenyataan menunjukkan bahwa produk-produk budaya orang jawa yang beragama silam cenderung mengarah kepada polarisasi islam kejawaan atau jawa yang keislaman sehingga timbul istilah jawa atau islam kejawen. Sebagai contoh pada nama-nama orang banyak dipakai nama seperti Abdul Rahman, Abdul Razak, meskipun orang jawa menyebutnya Durahman, durajak. Begitu juga penggunaan sebutan jawa In Pandum yang pada hakekatnya terjemah dari tawakal dan lain-lain.
Sebagai suatu cara pendekatan dalam proses akulturasi, kedua kecenderungan itu merupakan strategi yang sering diambil ketika dua kebudayaan saling bertemu. Apalagi pendekatan itu sesuai dengan watak orang jawa yang cenderung bersikap moderat serta mengutamakan keselarasan. Akan tetapi, persoalan yang sering muncul dan sering menjadi bahan perbincangan dikalangan para pengamat adalah makna yang terkandung dari percampuran kedua budaya tersebut. Mereka memiliki penilaian yang berbeda ketika dimensi keberagaman orang islam jawa termanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari, sebagian mereka menilai bahwa percampuran itu masih sebatas pada segi-segi lahiriyah sehingga islam seakan hanya sebagai kulitnya saja, sedangkan nilai-nilai esensialnya adalah jawa. Sementara itu, sebagian yang lain menilai sebaliknya dalam arti nilai islam telah menjadi semacam ruh dari penempatan budaya jawa kendatipun tidak secara  konkret berlabel islam.

B. Hubungan Antara Budaya Jawa Dan Islam Dalam Aspek Kepercayaan
Setiap agama memiliki aspek fundamental yaitu aspek kepercayaan dan memiliki keyakinan, terutama kepercayaan terhadap sesuatu yang sakral, yang suci atau yang ghaib. Dalam agama islam aspek fundamental terumuskan dalam aqidah atau keimanan sehingga terdapatlah rukun iman yang harus dipercayai oleh orang muslim. Kemudian dalam budaya jawa pra islam yang bersumberkan pada ajaran hindu terdapat kepercayaan adanya para dewata, terhadap kitab-kitab suci, orang-orang (para resi), roh-roh jahat, lingkaran penderitaan (samsara), hukum karma dan hidup bahagia abadi (moksa). Dalam agama budha terdapat kepercayaan mengenai empat kebenaran abadi (kesunyatan), yakni dukha (penderitaan), samudaya (sebab penderitaan), nirodha (pemadam keinginan), dan morga (jalan kelepasan). Adapun pada agama primitif sebagai orang jawa sebelum kedatangan hindu ataupun budha terdapat kepercayaan animisme dan dinamisme. Kepercayaan-kepercayaan dari agama hindu, budha, maupun animisme dan dinamisme ini dalam proses perkembangan islam berinteraksi dengan kepercayaan-kepercayaan dalam islam, yang meliputi pada aspek ketuhanan, prinsip ajaran islam telah tercampur dengan berbagai unsur kepercayaan hindu, budha maupun kepercayaan primitif. Contohnya seperti sebutan Allah SWT. Orang islam kejawen menyebut tuhan sebagai istilah Gusti Allah dua istilah ini merupakan gabungan kata dari bahsa jawa dan bahasa arab. Kata Gusti dalam bahasa jawa berarti pihak yang dihormati, dijunjung, dan diharap-harapkan dapat memberikan pengayoman dan perlindungan. Sedangkan kata Allah diambil dari bahsa arab yang berarti nama dari tuhan dalam agama islam.
C. Hubungan Antara Budaya Jawa Dan Islam Dalam Aspek Ritual
Ritual atau ritualistic adalah kegiatan yang meliputi berbagai bentuk ibadah sebagaimana yang terdapat dalam rukun islam yaitu, syahadat, sholat, puasa, zakat, dan haji. Agama islam mengajarkan kepada pemeluknya supaya melakukan kegiatan-kegiatan ritualistic diatas. Dalam ritual sholat dan puasa, selain terdapat sholat wajib lima waktu dan puasa wajib di bulan ramadhan, terdapat pula sholat-sholat dan puasa sunnah. Yang intisari dari sholat adalah doa yang ditunjukkan kepada Allah SWT, sedangkan puasa adalah suatu bentuk pengendalian nafsu dalam rangka penyucian rohani.
Dalam doa dan puasa mempunyai pengaruh yang sangat luas, mewarnai berbagai bentuk upacara tradisional orang jawa. Bagi orang jawa, hidup ini penuh dengan upacara baik upacara-upacara yang berkaitan dengan lingkaran hidup manusia sejak dari keberadaannya dalam perut ibu, lahir, kanak-kanak, remaja, dewasa sampai saat kematiannya. Selain itu ada juga upacara-upacara yang di lakukan berkaitan dengan aktifitas kehidupan sehari-hari dan juga upcara untuk menghormati kelahiran dan kematain orang yang dianggap berpengaruh dan berjasa.

D. Tradisi Maulid Nabi Di Tanah Jawa Dan Madura
Bagi sebagian orang Islam tradisi merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan sebagai salah satu bentuk pengejewantahan rasa cinta umat kepada Rasul Nya.
Di tanah
Jawa sendiri tradisi ini telah ada sejak zaman walisongo, pada masa itu tradisi Maulid Nabi dijadikan sebagai sarana dakwah penyebaran agama Islam dengan menghadirkan berbagai macam kegiatan yang menarik masyarakat. Pada saat ini tradisi Maulid/Mauludan di Jawa disamping sebagai bentuk perwujudan cinta umat kepada Rasul juga sebagai penghormatan terhadap jasa-jasa Walisongo.
Sebagian masyarakat Jawa merayakan maulid dengan membaca Barzanji, Diba’i atau al-Burdah atau dalam istilah orang Jakarta dikenal dengan rawi. Barzanji dan Diba’i adalah karya tulis seni sastra yang isinya bertutur tentang kehidupan Muhammad, mencakup silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Karya itu juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta Berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia. Sedangkan Al-Burdah adalah kumpulan syair-syair pujian kepada Rasulullah SAW yang dikarang oleh Al-Bushiri. Berbagai macam acara dibuat untuk meramaikan acara ini, lambat laun menjadi bagian dari adat dan tradisi turun temurun kebudayaan setempat.
Di Cirebon, Yogyakarta, dan Surakarta, perayaan maulid dikenal dengan istilah sekaten. Istilah ini berasal dari stilasi lidah orang Jawa atas kata syahadatain, yaitu dua kalimat syahadat. Perayaan umumnya bersifat ritual penghormatan (bukan penyembahan) terhadap jasa para wali penyebar Islam, misalnya upacara Panjang Jimat yaitu upacara pencucian senjata pusaka peninggalan para wali.
Di Cirebon upacara Panjang Jimat di fokuskan di dua tempat yaitu Keraton Kasepuhan dan Astana Gunung Jati. Di Jogjakarta dan Surakarta di masing-masing keraton dengan acaranya Grebeg Mulud. Pada zaman kesultanan Mataram perayaan Maulid Nabi disebut Gerebeg Mulud. Kata "Gerebeg" artinya mengikuti, yaitu mengikuti sultan dan para pembesar keluar dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan Maulid Nabi, lengkap dengan sarana upacara, seperti nasi gunungan dan sebagainya. Di Garut, terdapat upacara Ngalungsur yaitu proses upacara ritual dimana barang-barang pusaka peninggalan Sunan Rohmat (Sunan Godog/Kian Santang) setiap setahun sekali dibersihkan atau dicuci dengan air bunga-bunga dan digosok dengan minyak wangi supaya tidak berkarat, di fokuskan di desa Lebak Agung, Karangpawitan. Di Banten kegiatan di fokuskan di Masjid Agung Banten. ditempat lain diantaranya tempat-tempat ziarah makam para wali.
Di Madura acara ini dikatakan “MULUDHEN”. Yang mana dalam acara itu biasanya diisi dengan pembacaan barzanji dan sedikit selingan ceramah keagamaan yang menceritakan tentang akhlaq Sang Nabi pada masanya untuk dijadikan sebagai suri tauladan demi kehidupan saat ini.
Di beberapa tempat kadang-kadang perayaan ini dijadikan ajang berkumpulnya para tokoh masyarakat dan sesepuh setempat, seperti kyai, bangsawan/elang, dan tidak ketinggalan para jawara dari berbagai paguron untuk saling bersilaturahim, untuk membicarakan berbagai macam hal yang menyangkut daerah setempat. Tapi hal ini jarang diekspos karena sifatnya yang non formal, sehingga tidak banyak masyarakat yang mengikuti.

3.       Kesimpulan
Dalam pemaparan diatas penulis tarik kesimpulan bahwa hubungan budaya jawa dan islam dalam aspek kepercayaan dan ritual menunjukkan secara jelas bahwa memang telah terjadi dalam kehidupan keberagamaan orang jawa suatu upaya untuk mengakomodasikan antara nilai-nilai islam dengan budaya jawa pra-islam. Upaya itu telah dilakukan sejak islam mulai disebarkan oleh para muballigh yang tergabung dalam Walisongo dan dilanjutkan oleh para pujangga kraton, serta dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari orang jawa islam.
Upaya itu masih terus berproses hingga saat sekarang ini. Sebagian dari nilai-nilai islam itu telah menjadi bagian dari budaya jawa, kendatipun di sana-sini warisan nilai-nilai budaya pra islam masih tampak meski dalam wadah yang kelihatannya islam

4.       Penutup
Demikian makalah yang dapat saya sampaikan. Tentunya masih banyak kesalahan karena minimnya pengetahuan kami. Kritik konstruktif sangat kami harapkan untuk perbaikan makalah selanjutnya. Akhirnya, kurang dan lebih kami mohon maaf. Semoga bermanfaat dan dapat menambah khasanah keilmuan bagi kita semua





DARTAR PUSTAKA
Amin, M. Darori, Islam dan Budaya Jawa, Yogyakarta: Gama Media, 2000.
Kabbani,Syekh muhammad hisyam,Maulid dan ziarah ke Makam Nabi,Yogyakarta:Serambi
Yustiono,Islam dan Kebudayaan Jawa,Bandung:Pustaka,1993
M. Hariwijaya, Islam Kejawen, Yogyakarta, Gelombang Pasang, 2004.
Hamka, Sejarah Umat Islam IV,Jakarta : Bulan Bintang, 1976

Silakan masukkan email untuk menerima update:

1 Response to "Tradisi Maulid Nabi di Tanah Jawa dan Madura"

Silakan tinggalkan komentar anda. Karena komentar anda sangat berharga. Komentar akan dimoderasi sebagai filter terhadap komentar-komentar yang tidak sesuai. Salam gembladag!