Arsitek Islam-Jawa



PENDAHULUAN


Pada zaman hindu arsitektur adalah karya seni rupa yang melambangkan keesaran kerajaan. Sekalipun sebagian besar karya seni rupa mengandung nilai fungsi sebagai media kebaktian agama, namun tugasnya dalam mengabadikan kekuasaan dan kebesaran raja ataau sultan tetap menonjol.
Pada zaman hindu bangunan candi tidak hanya mencerminkan hasrat untuk melambangkan ajaran dan falsafah agama, tetapi bangunan ini sekaligus menjadi karya monumental kerajaan.
Nilai nilai monumental arsitektur islam kuno yang dimulai sejak zaman wali songo memang kurang menonjol bila dibandingkan dengan zaman hindu atau dengan bangunan bangunan islam diluar indonesia. Hal ini dikarenakan kondisi budaya yang kurang menguntungkan pada waktu itu untuk mendirikan bangunan bangunan yang serba megah dan serba besar dengan nilai nilai monumental. Konsolidasi kekuasaan politik dan peperangan yang terus menerus antar kekuasaan dan melawan kekuasaan asing.
Dengan bahan baku yang kurang tahan lama seperti batu bata dan kayu, sulit dicapai nilai nilai seni bangunan tersebut. Tradisi arsitektur majapahit yang diwariskan sudah kehilangan kekuatan mutu klasik arsitektur zaman hindu. Kepandaian tekhnik bangunan dengan bahan batu alam tidak diwariskan pada para ahli bangunan pada zaman islam. Karenanya arsitektur islam kuno  kembali pada tradisi bangunan kayu yang mencapai puncak perkembangannya dalam arsitektur masjid dan istana raja.
Dalam makalah ini akan dibahas hal hal tentang interelasi islam dengan jawa dalam bidang arsitektur yang melingkupi bangunan masjid, istana, makam dan juga tata kota.



PEMBAHASAN

1.     ARSITEKTUR JAWA PADA MASA HINDU BUDHA
Konsep dasar  rancangan candi klasik jawa adalah keinginan menciptakan tiruan gunung pada pusat alam semesta, tempat roh para dewa dapat dibujuk untuk menjelma menjadi patung atau lingga yang ditempatkan dalam ruang yang menyerupai gua.[1]
Bentuk arsitekttur hindu dapat dilihat dalam bangunan candi gedong songo di ungaran yang dibangun pada pertengahan abad ke-8. Candi gedong songo menempati petak petak di lereng atas gunung dengan pemandangan yang indah di atas sebuah petak besar jawa tengah dan mengapit sebuah jurang yang mengalirkan air vulkanis yang panasnya hampir mencapai titik didih. Ciri ciri alami ini mungkin merupakan beberapa unsur utama orang jawa dahulu memilih tempat ini untuk wilayah gugus keagamaan. Dan mungkin menghubungkan sumber panas dan ciri lain gunung api dengan kekuatan ghaib. Sumber sumber menunjukkan gunung dianggap sebagai tempat roh nenek moyang dapat dihubungi, dimintai perlindungan, diredakan kemurkaannya dengan persembahan, diserapnya kekuatan untuk mempertahankan hidup mereka. Prasasti nusantara seringkali merujuk candi sebagai gunung.
Candi gedong songo dibedakan satu dari yang lain oleh perbedaan denah bagian dalam. Tiga candi utama dalam kelompok III menghadap barat. Candi tengah dipersembahkan kepada siwa berbentuk persegi, dengan sebuah serambi masuk. Relung relung disusun menjadi bagian luar tiga dinding lain yang berisi patung agatya, ganesha dan durga. Ini merupakan penampilan pertama tritunggal ikonografi yang kemudian menjadi kewajiban maya perancang semua candi siwa di jawa selama enam abad mendatang.
Candi lebih kecil di utara gugus ini dipersembahkan bagi wisnu. Candi sesudahnya yang berdiri diujung selatan mungkin dipersembahkan bagi brahma. Pembagian tiga candi untuk trinitas hindu memberikan gambaran awal tata letak gugus siwa lara jonggrang. Bangunan kecil lain yang menghadap candi tengah siwa menyerupai candi semar di dieng. Kemungkinan berisi patung nadin, sapi jantan kendaraan siwa.
Kekuasaan dinasti sailendra yang berkuasa antara tahun 780 dan 830 M telah membuat candi secara besar besaran untuk dewa mahayana. Garis kekuasaan yang menggantikannya condong pada hindu, namun juga memberi sumbangan pada pembuatan bangunan suci budha, yang sangat terkenal adalah candi sari dan candi plaosan. Gugus ini dibangun setelah kebangkitan kaum elit hindu pada tahun 832M. Kedua gugus tersebut serupa satu sama lain. Candi plaosan terdiri dari dua gugus. Plaosan kidul merupakan candi utama yang dikelilingi dua persegi memusat dari candi dan stupa. Dan plaosan lor yang terdapat halaman dengan sisa sisa dasar batu persegi untuk atap kayu yang sudah lama hilang.
Seniman jawa memiliki bermacam hiasan yang mereka gunakan untuk menghiasi candi. Ragam hiasan ini dipilih dari perbendarahan pola asia selatan dan dikembangkan dalam lingkungan jawa. Hiasan juga dipadukan untuk membentuk gubahan; ragam hias tertentu secara teratur ditemukan ditempat tempat dan pengelompokkan candi. diantaranya adalah gambar burung beo, mula mula muncul saat lara jonggrang dibangun tahun 835M. Singa dalam relung, penjaga pintu kembar, nandiswara dan mahakala yang mula mula muncul pada gedong songo. Ragam hiasan mengungkapkan pesan mengenai sifat kedewaan bangunan dan tidak diatur secara acak. Ragam hias tersebut terdiri atas banyak hal yang dipercayai orang jawa, baik hindu maupun buda, terdapat di surga.
Jenis hiasan yang paling umum dipakai dalam candi jawa adalah antefix hiasan ini merupakan unsur segitiga yang diukir dalam banyak ragam. Hiasan tersebut digunakan sebagai hiasan pada puncak dinding dan cornice. Pada relung relief terdapat hiasan kalpataru atau pohon hayat sebagai ragam hias kahyangan di jawa. Lambang umum lain termasuk kendi yang digunakan sebagai wadah air suci yang digunakan dalam upacara agama dan untuk melambangkan cairan keabadian, dan kinnara atau pemusi kahyangan, biasanya wanita dengan tubuh setengah manusia dan setengah burung.[2] 
2.     ARSITEKTUR JAWA ISLAM
Surutnya pengaruh majapahit pada akhir abad ke-15 diimbangi oleh meningkatnya kekuatan pemerintahan islam. Agama baru ini memperkenalkan jenis bangunan baru, seperti masjid dan makam. Ada beberapa pembaharuan arsitektur pada masa ini, contohnya, dalam membuat model istana dan tata ruang kota.  Dalam sejarah jawa, penguasa islam menggantikan kekuasaan politis raja hindu. Elit politik baru tidak sepenuhnya merombak ideologi ataupun lambang penampilan luar peguasa lama, melainkan mereka sangat mempertahankan kesinambungan dengan masa lalu sambil mengukuhkan peralihan dan perluasan pemerintahan hindu terdahulu.
1)    Masjid
Pengaruh masa pra islam tampak jelas dalam bangunan islam di jawa. Ciri ciri umum meliputi pembagian bangunan menjadi tiga, yakni dasar, utama dan bagian atas, denah terpusat, atap tumpang, deretan tiang atau tiang tiang keliling bagian luar, serambi tambahan di depan bangunan, halaman berdinding dengan pintu masuk, menara dan pemakaman menyatu di halaman masjid. Sebagian masjid jawa, dari masjid masjid agung dalam gugus istana hingga masjid desa sederhana secara khas memiliki ciri ciri seperti ini, khususnya penggunaan atap tumpang ganda atau tiga. Penggunaan atap tumpang meneruskan tradisi penggunaan atap yang digunakan bangunan keagamaan masa pra islam sebagaimana yang dapat dilihat dari relief candi jawa timur abad ke-13 dan 14. Atap meru yang terdapat pada saat ini merupakan turunan dari masa yang sama. Perlengkapan arsitektur utama pada atap meru adalah kelompok empat tiang. Dikenal dalam bahasa jawa sebagai saka guru, yang menyangga atap tingkat paling atas dengan satu lintas yang berkesinambungan  dari tingkat dasar. Tiang di timur laut dalam beberapa masjid disebut sebagai saka tatal yang berarti tiang serpih serpih, yang terbuat dari bilah bilah kayu yang direkatkan menggunakan lempengan logam. Serambi merupakan tambahan penting bagi masjid jawa. Ciri ini biasanya ditemukan di sisi timur tempat pintu masuk. Bagian luar dinding timur masjid masjid awal dihiasi dengan ragam hias rumit seperti di mantingan, terbuat dari pahatan plakat dari batu. Di kudus, serambi sepenuhnya dikelilingi batu bata gerbang berbentuk paduraksa. Selain itu masjid awal mempunyai ciri memiliki pintu berdaun ganda, serupa dengan candi jawa pra islam atau tempat tinggal orang bali sekarang.
Bentuk bangunan kedua yang digunakan untuk beberapa masjid awal adalah saka tunggal. Atap jenis bangunan ini disangga oleh satu tiang tengah. Asalnya mungkin dari bangunan lebih kecil. Sebagaimana ditemukan di relief candi jawa timur, untuk semedi atau pertapa perorangan atau kelompok kecil. Contoh bangunan seperti ini ditemukan di kraton kasepuhan, makam sunan bonang dan masjid desa kecil dekat yogyakarta.[3]
Masjid Kudus
Tata ruang masjid ini berbeda dengan masjid masjid jawa lainnya, tidak ada unsur alun alun atau istana. Yang ada adalah kauman atau kampung muslim. Mengitari di barat, utara, selatan dan timur. Hal ini mungkin karena lingkungan dibangunnya masjid bukanlah lingkungan pemerintahan. Adanya kauman mengelilingi sekitar masjid menunjukkan bahwa kudus dahulu pusat pengajaran dan penyebaran islam di jawa. Dari fisik bangunan, aspek hindu terlihat pada tiga gapura yang arsitekturnya mirip dengan bagian gerbang pada candi candi hindu dan buda. Gapura gapura tersebut berbaris dari depan searah dalam garis sumbu kiblat[4]. Keunikan seni masjid ini memiliki ciri khas tersendiri misalnya bentuk menara sangat unik seperti menara kul kul di bali,konstruksinya dari bata merah,berdenah bujur sangkar, tinggi dari tanah hingga lantai dari semacam gardu di atas 10m. Badan menara terbagi menjadi tiga bagian dari bentuknya semakin kecil keatas, juga dengan garis garis molding, dimana pembagian ini juga juga sangat terlihat dalam arsitektr bali dan tradisional lain, personifikasi bagian konstruksi bagian dari kepala, badan dan kaki.
Gardu diatas konstruksinya juga tajug, tapi hanya dua lapis, bagian teratas piramidal puncaknya dihiasi mustaka. Bila pada kul kul diletakkan kentungan, pada menara masjid diletakkan bedug yang berukuran cukup besar. Dua lapis atap ada yang menginterpretasikan simbol dari adanya dua kalimat dalam syahadat. Bentuk bangunan menara dimaksudkan untuk menarik simpati masyarakat Hindu pada waktu itu untuk memeluk agama Islam.[5]
Perkawinan antara arsitektur hindu dengan jawa pada masjid ini kembali terlihat dengan adanya gerbang pada setiap akan masuk dalam petak makam (dipagar dinding)terdapat gerbang yang dalam arsitektur bali disebut bentar. Dengan adanya gerbang yang berlapis lapis tersebut timbul tata ruang yang bertingkat tingkat, yang di dalam lebih terhormat dari sebelumnya.
Lubang pancuran kuno yang berbentuk kepala arca yang digunakan sebagai tempat wudlu. Bentuk arcanya sering kali dikaitkan dengan kepala sapi yang diberi nama “kerbau gumarang”, karena binatang sapi dulunya di agungkan oleh orang-orang hindu di kudus, bahkan hingga sekarang mereka telah menjadi muslim.
2)    Bangunan Makam
Perubahan kepercayaan keislam memunculkan kembali arsitekur makam. Dari kebiasaan lama mengubur, menghilang setelah berabad abad di bawah pengaruh hindu buda yang melakukan pembakaran mayat dalam prosesi kematian.
Makam adalah bangunan sebagai sarana dari sistem penguburan jemazah orang muslim. Makam bernentuk bangunan persegi panjang dengan arah lintang utara selatan yang terdiri dari bangunan bawah yang disebut kijing dan bangunan atas yang disebut nisan.
Kijing dibuat dari batu alam dengan cara susun timbun seperti dalam tradisi candi pada struktur bangunan punden dari zaman megalitikum.
Salah satu bukti tertua yang menunjukkan sebagian besar orang jawa beralih ke islam adalah ditemukannya sejumlah makam di desa tralaya, dekat trowulan. Makam ini memiliki kerangka yang diilhami kalamakara, salah satu hiasan klasik jawa. Salah satu sisi batu berhiaskan ayat ayat al qur’an. Sisi lain dihiasi dengan hiasan menampilkan motif tanaman dengan garapan ornamen berdasarkan tradisi seni hias majapahit. Motif tanaman ini diselingi dengan motif geometris seperti bentuk meander dan tumpal yang juga sering muncul dalam hiasan candi majapahit. Disain struktur batu nisan dari kebanyakan makam tua tersebut berbentuk kurawal yang mirip dengan bentuk mahkota pintu gerbang candi yang dibentuk oleh motif kala makara.
Secara struktural bangunan makam yang bertolak dari punden tempat arwah sudah tampak pada bangunan candi hindu. Struktur bangunan seperti ini mirip dengan citra bentuk meru sebagai lambang gunung suci dalam agama hindu.
Makam sebagai bangunan suci pelu dilindungi dengan tambahan bangunan yang disebut cungkup. Tamabahan bangunan cungkup sebenarnya bersumber pada pikiran lama seperti dalam mendirikan candi zaman hindu sehingga berpengaruh pada bentuk dan struktur bangunan cungkup.
Khusus untuk raja atau tokoh terkemuka dalam masyarakat, struktur bangunan cungkup mirip dengan bangunan candi yang terdiri dari bagian kaki, tubuh dan atap dengan batas batas pembingkaian mendatar, seperti makam fatimah binti maimunah di leran dekat gresik.
Selain dilindungi oleh cungkup, juga dilindungi oleh semacam pagar pelindung atau yang disebut rana. Dinding rana basanya hamya melindungi jirat pada kedua sisi panjang dan pada sisi ujung di sebelah utara. Hiasan kelir rana disebut gunungan karena garis keliling dari dari hiasan menyerupai motif gunungan atau motif pohon seprti hiasan candi.
Ada kebiasaan untuk mendirikan makam keluarga, khususnya untuk keluarga raja dalam susunan atau penataan tertentu. Pada makam kumpulan keluarga raja, tampak gugusan makam lengkap dengan cungkupnya yang disusun seperti bangunan dalam kompleks istana lama dengan tembok keliling beserta gapuranya.
Pada mulanya peletakan makam makam dari suatu gugusan disesuaikan dengan jenjang jenjang di lerng bukit atau gunung . jenjang pelataran teratas dan yang paling belakang adalah makam raja dan keluarga yang paling dekat. Selanjutnya secara bertahap menuju kejenjang bawahnya melalui tangga dan gapura. Di tiap pelataran jenjang mamak makam dari keturunan raja atau kerabat istana.
Rinsip dasar penyusunan makam kumpulan teresbut tidak berbeda dengan susunan kumpulan candi pada masa hindu. Contoh kumpulan makam dengan susunan seperti ini adalah makam kumpulan di imogiri jogjakarta dan makam kumpulan di lereng gunung jati dan sembung dekat cirebon.
Gaya seni bangunan dari zaman hindu masih menampakkan diri pada makam kumpulan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari gapura makam serta bahan dan teknik bangunannya memperlihatkan bentuk dan struktur candi hindu yang berasal dari zaman majapahit.
Proporsi bangunan serta hiasan struktural seperti simbar dan pelipis bingkai dari candi hindu masih taampak jelas pada gapura tersebut. Sayap tangga yang mengantar pada pindu gerbang juga mirip dengan sayap pintu candi. Di atas tembok keliling tampak hiasan struktur berupa candi miniatur yang disebut candi laras.[6]
3)    Keraton dan tata kota
Keraton pada zaman kerajaan islam di indonesia adalah pusat kota sekaligus pusat kerajaan. Sesuai dengnan pandangan kosmologis dan religio-magis yang bersumber pada tradisi bangsa indonesia, kraton sebagai tempat bersemayam raja atau sultan adalah pusat kekuatan ghoib yang berpengaruh pada eluruh kehidupan masyarakat. Keraton adalah lambang kewibawaan raja, ia adalah pencerminan kekuasaan lahiriah dan batiniah.
Unsur unsur interior bangunan tradisional khususnya bangunan istana yang menampilkan kualitas keindahan terletak pada penampilan konstruksi kayu dan hiasan ukiran kayu. Semua konstruksi dan kerangka bangunan diperlihatkan dan menimbulkan suasana tersendiri pada interior bangunan.
Kuta atau kota secara harfiah berarti daerah pemukiman yang dilindungi oleh dinding yang dibangun mengeliling menurut bentuk persegi. Dinding digunakan sebagai dalem untuk melindungi teritorial sekaligus memberi definisi luar dan dalamnya kehalusan dalam berkrama. Pengertian dalem untuk menyebut hunian bauk untuk istana maupun rumah biasa, adalah teritorial di dalam bata atau dinding yang memagarinya. Belum diketahui jelas asal muasal darimana struktur tembok nata penyengker ini.
Pandangan hidup jawa trerhadap kehiduupan diatas bumi dan di bawah langit berpedoman pada bayangan dari kebenaran sejati yaang transenden. Repesentrasi hunian manusia tidak lebi dari penyerahan diri pada struktur kosmologis. Disinilah kota sebagai sistem tempat tinggal manusia secaa sosisl telah memiliki struktur yang baku.
Didalam kuta mataram sejak yogyakarta berdiri berlaku kerama atau ehalusan basa, yang pada intinya tidak jauh dari perilaku para priyayi. Konsep ini dimungkinkan merupakan cara efektif melenggengkan kekuasan para priyayi. Istilah ngoko untuk wilayah luar kuta nagara dan krama untuk wilayah dalam pusat kota baru nampak pada zaman sultan agung.
Secara struktur, dasar penciptaan kuta nagara tidak bisa disebut suatu respon atau jawaban fungsional bermukim sebuah masyarakat yang struktur sosial sebuah negara. Struktur kuta jawa lahir sebagai pemukiman surgawi mereka. Hal ini dapat dilihat identitas konseptualnya, tempat dimana kuta nagara itu didirikan menampakkan struktur yang sama yaitu pada pusat. Di dalam kehidupan urban jawa hampir semua peristiwa yang berhubungan dengan fenomena pusat terjadi di alun alun, masjid dan keraton.[7]
Karya rancang bangun dan struktur fisik dari sebuah bangunan kuta dapat dilihat dari peninggalan peninggalan kota demak, kudus, dan kota gede yang masih banyak meninggalkan petunjuk gagasan kota negara, nampak pada daerah yang kini disebut, kauman, pecinan,dan siti hinggil.
Struktur pusat demak kemungkinan merujuk pada ibukota majapahit dengan skala lebih kecil. Dalam struktur ini halun halun menjadi struktur ruang pengikat bagi dalem/ kraton maupun masjid yang bersangkutan.
Dalam kenyataan fisiknya, yang disebut kuta selalu ada halun halunnya, yang kemudian disebut alun alun. Bentuknya yang berupa persegi empat menurut zoetmulder menyebut adanya mancapatyang sering dianut oleh orang jawa sebagai pusat orientasi spasial. Arah empat ini dipegan oleh orang jawa dalam hubungannya dengan empat unsur pembentuk keberadaan bhuwana; air, bumi, udara, dan api. Dasar pembentuk kehidupan ini kemudian diturunkan sebagai dasar kategorisasi untuk hal hal lain, misalnya tata ruang pada kawasan alun alun.[8]
Hinduisme dan budhisme memberikan kontribusi perkembangan alun alun itu, sebab upacara upacara kenegaraan hindu pada khususnya membutuhkan ruang terbuka untuk prosesi ritual. Kata halun halun sendiri berasal dari bahasa jawa kuno(kawi) bukan sansekerta. Jadi bisa diduga konsep alun alun merupakan prodak asli jawa.
Pada pusat pusat kota yogyakarta dan surakarta terdapat dua alun alun, utara dan selatan. Alun alun utara merupakan tempat resmi yang berhubungan dengan raja. Sementara alun alun selatan untuk putra mahkota sebagai persiapan untuk melakukan upacara kenegaraan.
Dasar lain yang membentuk tata kota jawa islam adalah dibentuknya jajal jalan utama atau marga dan ratan. Marga mengindikasikan adanya lantaran atau laku sehingga sesuatu terjadi karena berkaitan dengan penyebab adanya jagad sehari hari. Dunia sehari hari orang  jawa terjadi oleh adanya marga, yang mengantarkan dunia umum menampakkan dirinya. Dalam perkembangan berikutnya, marga sebagai jalan tenggelam oleh konsep lain ratan yang merujuk pada dunia publik. Rat adalah bahasa jawa kuno untuk konsep dunia umum. Apa yang dssebut rat kemudian ratan itu bukanlah bukanlah jalan atau permukaan yang rata, tetapi suatu konsep yang mampu merangkum dunia publik, negara,rakyat dan semua kejadian di atas bumi pada suatu kaum atau kejadian kejadian yang erat kaitannya dengan kesadaran. Rat adalah antonim dari kata tanrat yang artinya tak sadarkan diri. Jadi konsep dunia yang asli dalam kehidupan masyarakat jawa kuno itu tidaklah abstrak seperti apa yang diungkapkan oleh pengertian bhuwana. Jalan diluar pawisman dimana kehidupan bermasyarakat terjadi itulah ratan.
Sementara marga memberi indikasi penyebab terjadinya rat itu, jadi marga adalah sarana untuk memungkinkan eksistensinya dunia sehari hari. Bila marga menjadi pembentuk struktur dasar fisik urbannya, maka akan nampak pola geometris yang tegas, sekalipun tidak harus aksial. Di kota gede hal ini tidak dijumpai. Marga yang terbangun lebih mudah dimengerti sebagai akibat bukan sebab dari pembangunan yang beratahap bermula di sekitar sentra utama dan sentra sentra selanjutnya.
Dikota yogyakarta dapat disaksikan adanya sumbu dari keraton menembus alun alun terus melalui jalan malioboro ke tugu dan gunung merapi, yang secara lengkap dapat diurutkan mulai dari garis porosd dari laut selatan- panggung krapyak- keraton- tugu- sampai kegunung merapi. Secara filosofis sumbu ini mempunyai arti dan makna tersendiri, yaitu melambangkan keselarasan dan keseimbangan hubungan antara manusia dan tuhan, dan antara manusia dengan sesamanya. Kesemuannya ini berada pada satu gambaran sumbu kelanggengan.
Segara kidul secara kosmologi merupakan gambaran dinamika masyarakat, yang selalu bergerak dan berubah ubah seperti ombak lautan. Untuk menyelami dan mengetahui gerak dinamika tersebut seseorang harus berhubungan dengan masyarakatnya. Hal ini dilambangkan dengan perkawinan antara raja dengan nyi roro kidul sebagai penguasa laut selatan.
Manusia yang telah mencapai kesampurnaning kaurip inilah yang menjadi manusia sejati, manusia yang mempunyai pancaran rohani yang kukuh, dan tidak tergoyah dengan godaan godaan duniawi. Kondisi kukuh inilah yang merupakan tujuan akhir yang disimbolkan dengan gunung merapi.[9]  

                                                                     



DAFTAR PUSTAKA
Wiryomartono A. Bagus, seni bangunan dan seni bina kota indonesia, jakarta,gramedia pustaka utama;1995
Gunawan tjahjono, arsitekur, jakarta, widyadara,;2002
Erwan muhammad,Pengantar seni rupa di indonesia,yogyakarta,bina ilmu;2000
Mubarak zaki, Perkembangan arsitektur masjid,bandung, permata ilmu;1997
Kuntowijoyo,paradigma islam interpretasi untuk aksi, bandung: mizan,1998


Silakan masukkan email untuk menerima update:

3 Responses to "Arsitek Islam-Jawa"

  1. suwun mas. tapi binung mau ambil daftar pustakanya buat futnot

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2... download aja postingan ini di link sebelum PENDAHULUAN, disitu udh ada footnotenya jg...

      Delete
  2. ada footnotenya tapi kok gada keterngan footnotenya apa ? tolong gan bagi infonya ya....
    thanks
    sama sama

    ReplyDelete

Silakan tinggalkan komentar anda. Karena komentar anda sangat berharga. Komentar akan dimoderasi sebagai filter terhadap komentar-komentar yang tidak sesuai. Salam gembladag!