Poligami


A. PENGERTIAN DAN HUKUM POLIGAMI

            Kata-kata “poligami” terdiri dari kata “poli” dan “gami”. Secara etimologi, poli artinya banyak, gami artinya istri. Jadi poligami itu artinya beristri banyak. Secara terminologi, poligami yaitu ” seorang laki-laki mempunyai lebih dari satu istri”. Atau ”seorang laki-laki beristri lebih dari seorang, tetapi dibatasi paling banyak empat orang”.
            Allah SWT membolehkan berpoligami sampai empat orang istri dengan syarat berlaku adil kepada mereka. Yaitu adil dalam melayani istri, seperti urusan nafkah, tempat tinggal, pakaian, giliran dan segala hal yang bersifat lahiriyah.
Jika tidak berlaku adil maka cukup satu istri saja (monogami). Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian, jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja. Yang demikian itu lebih dekat untuk tidak berbuat aniaya. (Q.S. an Nisa’:3)
           
            Islam memandang poligami lebih banyak membawa resiko/madharat daripada manfaatnya, karena manusia itu menurut fitrahnya mempunyai watak cemburu, iri hati, dan suka mengeluh. Watak-watak tersebut akan mudah timbul dengan kadar tinggi, jika hidup daam lingkungan keluarga yang poligamis. Dengan demikian poligami bisa menjadi sumber konflik dalam kehidupan keluarga, baik konflik suami dengan istri-istri dan anank-anak dari istri-istrinya, maupun konflik antara istri besrta anak-anaknya masing-masing. Karena itu hukum asal dalam perkawinan menurut Islam adalah monogami, sebab dengan monogami akan mudah menetralisasi sifat/watak cemburu, iri hati, dan mengeluh dalam kehidupan keluarga yang monogamis. Berbeda dengan kehidupan keluarga yang poligamis, orang akan mudah peka dan terangsang timbulnya perasaan cemburu, iri hati/dengki, dan suka mengeluh dalam kadar tinggi, sehingga bisa mengganggu ketenangan keluarga dan dapat pula membahayakan keutuhan keluarga. Karena itu poligami hanya bolehkan, bila dalam keadaan darurat, misalnya istri ternyata mandul, sebab menurut islam, anak itu merupakan human investment yang berguna bagi manusia setelah ia meninggal dunia, yakni bahwa amalnya tidak tertutup berkah adanya keturunan yang shaleh yang selalu berdoa untuknya. Maka dalam keadaan istri mandul dan suami tidak mandul berdasarkan keterangan medis hasil laboratoris, suami diizinkan berpoligami dengan syarat ia benar-benar mampu mencukupi nafkah untuk semua keluarga dan harus bersikap adil dalam pemberian nafkah lahir dan giliran waktu tinggalnya.
           

Megenai hal tersebut, dalam PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1974 TENTANG  PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN, BAB VIII TENTANG BERISTRI LEBIH DARI SEORANG

Pasal 40
Apabila seorang suami bermaksud untuk beristri lebih dari seorang maka ia wajib mengajukan permohonan secara tertulis kepada pengadilan.

Pasal 41
Pengadilan kemudian memeriksa mengenai:
a.         Ada atau tidaknya alasan yang memungkinkan seorang suami kawin lagi, ialah:
            - bahwa istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri
            - bahwa istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan
            - bahwa istri tidak dapat melahirka keturunan
b.         Ada atau tidaknya persetujuan dari istri, baik persetujuan lisan maupun tertulis, apabila persetujuan itu merupakan persetujuan lisan, persetujuan itu harus diucapkan didepan sidang pengadilan.
c.         Ada atau tidak adanya kemampuan suami untuk menjamin keperlua hidup istri-istri dan anak-anak, dengan memperlihatkan:
i.          surat keterangan mengenai penghasilan suami yang ditanda-tangani oleh         bendahara tempat bekerja; atau
            ii.         surat keterangan pajak penghasilan; atau
iii.                surat keterangan lain yang dapat diterima oleh pengadilan
d.         Ada atau tidaknya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri-istri dan anak mereka dengan pernyataan atau janji dari suami yang dibuat dalam bentuk yang ditetapkan untuk itu.
Berkenaan dengan ketidakadilan suami terhadap istri-istrinya, Nabi Muhammad SAW bersabda:
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ النَّبِىُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَتْ لَهُ اِمْرَأَتَانِ فَمَالَ اِلَى اِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَشِقَّهُ مَائِلٌ  (رواه ابو داوود والترمذى والنسائ وابن حبان)
Dari Abu Hurairah ra. Sesungguhnya Nabi saw bersabda: Barangsiapa yang mempunyai dua orang istri, lalu memberatkan pada salah satunya, maka ia akan datang pada hari kiamat dengan bahunya miring (H.R. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

B. POLIGAMI DALAM AGAMA-AGAMA SEBELUM ISLAM

a. Taurat dan Poligami
            Kalau kita meneliti Naskah Taurat yang ada sekarang ini, yaitu lima unit yang ada pada permulaan Kitab Suci Perjanjian Lama, maka akan kita temukan bahwa disana tidak ada larangan terhadap poligami; malahan dalam Naskah Perjanjian Lama ada yang berpoligami tidak terbatas, umpamanya pada pasal-1 dari Kitab Raja-Raja diterangkan bahwa nabi Sulaiman mempunyai istri lebih dari tujuh ratus wanita bangsawan dan tiga ratus budak-budak, dan Allah sajalah yang Maha Mengetahui betul-tidaknya berita itu.
            Meskipun Taurat tidak melarang adanya poligami, tetapi ulama-ulama Yahudi membeci poligami. Di Mesir ada dua golongan umat Yahudi, yaitu aliran Rabbaniyun dan aliran Qarra’iyun. Aliran Rabbaniyun mengatakan: “ tidaklah pantas seorang laki-laki mempunyai istri lebih dari satu orang, laki-laki itu bertugas supaya mengucapkan sumpah pada waktu aqad nikah, bahwa ia akan menetapi larangan ini, walaupun tidak ada larangan dan pembatasan dalam Kitab Taurat”. Sedangkan golongan Qarra’iyun mengatakan “ boleh melakukan poligami dengan syarat tidak menyakiti, baik istri yang lama maupun istri yang baru”. Misal, dengan mengarahkan perhatiannya hanya kepada satu istrinya saja, tanpa memperhatikan yang lain. Maksudnya, poligami boleh dilakukan dengan syarat suami bisa berlaku adil terhadap istri-istrinya, aik dalam pergaulannya sebagai suami-istri, maupun dalam memberi nafkah dan kebutuhan istri-istrinya.
b. Injil dan Poligami
            Tidak ada dalam kata-kata Nabi Isa suatu keterangan yang jelas tentang landasan perkawinan monogami atau poligami. Tetapi, Bapak-Bapak gereja dan para pembuat undang-undang gereja, ada yang berpendapat bahwa ada naskah dalam Perjanjian Baru yang menyinggung tentang diharamkannya poligami, diantaranya: Injil Markus, pasal 10 ayat 10-12, Injil Lukas, pasal 16 ayat 18, menerangkan bahwa Nabi Isa Al Masih bersabda: ”Barangsiapa menceraikan istrinya lalu menikah dengan wanita lain, maka hukumnya dia berzina dengan wanita yang dinikahinya itu. Demikian juga kalau seorang wanita yang menceraikan suaminya dan menikah dengan laki-laki lain, maka hukumnya dia berzina dengan laki-laki itu”.
            Sebagian dari Bapak-Bapak gereja mempunya pengertian tentang ayat ini, bahwa agama Kristen mengharamkan menikah lagi kepada seorang yang telah menceraikan istrinya, kecuali kalau istrinya sudah meninggal setelah diceraikannya. Demikan juga dengan si istri yang telah diceraikan itu haram menikah dengan laki-laki lain selama suami yang menceraikannya itu masih hidup
      
      C. HIKMAH POLIGAMI

            Mengenai hikmah diizinkan berpoligami (dalam keadaan darurat dengan syarat berlaku adil) antara lain adalah sebagai berikut:
1. Untuk mendapatkan keturunan bagi suami yang subur dan istri mandul
2. Untuk menjaga keutuhan keluarga tanpa menceraikan istri, sekalipun istri tidak dapat               menjalankan fungsinya sebagai istri, atau ia mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat di sembuhkan
3. Untuk menyelamatkan suami dari yang hypersex dari perbuatan zina dan krisis akhlak lainnya.
4. Untuk menyelamatkan kaum wanita dari krisis akhlak yang tinggal di negara atau masyarakat yang jumlah wanitanya jauh lebih banyak dari kaum prianya, misalnya akibat dari peperangan yang cukup lama.

KESIMPULAN
            Dari uraian diatas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa dalam berpoligami ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang yang ingin melakukannya, diantaranya harus bisa bersikap adil terhadap istri-istrinya dalam segala hal. Islam dan Yahudi membenarkan hal tersebut, lain halnya dengan Kristen yang melarang adanya praktek tersebut. Tentunya dengan landasan hukum mereka masing-masing

PENUTUP
            Demikainlah yang dapat kami sampaikan. Sebagai manusia biasa pasti dari yang telah kami sampaikan masih banyak kekurangan dan banyak kesalahan yang belum kami ketahui. Karena itu kami berharap kepada teman-teman sekalian agar dapat membantu kami untuk perbaikan makalah-makalah kami yang selanjutnya, karena dari hal yang kecil lama kelamaan akan menjadi sesuatu yang besar.
            Semoga makalah ini dapat sedikit menambah pengetahuan kita dan bermanfaat bagi kehidupan kita, saat ini, esok, dan selamanya. Amin.....

DAFTAR PUSTAKA
·         Al Qur’an Karim
·         Ghozali, Abdul Rahman, Fiqh Munakahat, Jakarta: Kencana, 2008, cet. Ke-3
·         Al ’Atthar, Abdul Nasir Taufiq, Poligami Ditinjau Dari Segi Agama, sosial, dan Perundang-undangan, Jakarta: Bulan Bintang, 1976, cet. Ke-1
·         Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1974

Silakan masukkan email untuk menerima update:

2 Responses to "Poligami"

Silakan tinggalkan komentar anda. Karena komentar anda sangat berharga. Komentar akan dimoderasi sebagai filter terhadap komentar-komentar yang tidak sesuai. Salam gembladag!